Masjid Tiban, begitu orang menyebutnya. Dinamakan demikian karena ‘tiban’ dalam bahasa Jawa artinya ‘tiba-tiba jatuh’. Masjid megah 10 lantai ini memang disebut-sebut dibangun oleh jin dalam semalam karena tiba-tiba saja sudah berdiri tegak dengan arsitekturnya yang mencolok.
Tapi tidak, Masjid Tiban ini tidak dibangun oleh jin.
Masjid yang terletak di Turen, Malang ini sebenarnya adalah kompleks pondok pesantren Biharu Bahri'asali Fadlaailir Rahmah yang dimiliki oleh Romo Kiai Ahmad. Tidak terlihat dari jalan raya, memang, karena selain tidak terletak di ruas jalan utama Turen, masjid ini juga lokasinya masuk gang sempit. Gang sempit yang sepertinya dulu merupakan perumahan warga biasa, namun seiring dengan bertambahnya jumlah pengunjung Masjid Tiban, kini menjadi deretan kios penjual buah, makanan, hingga baju.
Kompleks Masjid Tiban ini yang tersembunyi inilah yang mungkin menyebabkan pembangunannya hanya diketahui oleh masyarakat sekitar. Kompleks pondok pesantren ini dibangun oleh santri dan jamaah, bukan oleh jin, seperti bantahan yang tertulis di pintu masuk.
Dari luarnya saja sudah terlihat keindahan arsitektur Masjid Tiban. Memasuki gerbangnya, mulut saya menganga. Bagian luar Masjid Tiban ini tinggi menjulang, dengan ornamen kaligrafi tulisan Arab yang didominasi warna putih dan biru, mengkilap pula. Sekilas terlihat seperti keramik/porselen China yang warnanya serupa, lalu saya membatin, buset, masa iya seluruh gedung ini dibuat dari keramik/porselen? Usut punya usut, ternyata dinding serupa keramik itu dinding dari semen dengan ukiran timbul yang dicat dengan warna biru, memberi kesan seperti keramik. Gerbang masuknya yang sudah membuat saya tercengang ternyata hanya secuil ujung keunikan yang dimiliki pondok pesantren ini.
Untuk masuk ke kompleks Masjid Tiban ini, pengunjung diminta untuk mengambil ‘surat masuk’, kertas kecil pengganti tiket (karena memang tidak perlu membayar) yang kemudian bisa digunakan untuk menulis pesan dan kesan, dikembalikan saat akan meninggalkan masjid.
[caption id="attachment_293869" align="aligncenter" width="614" caption="biru putih ke keemasan"]

Dari gerbang luar yang warnanya didominasi biru-putih, satu lorong dengan nuansa keemasan menanti. Di sisi kanan-kiri terdapat pilar-pilar seperti marmer yang dilengkapi dengan lampu hias warna-warni. Nuansanya mirip dengan kastil bergaya Eropa, dengan tambahan kaligrafi di sepanjang lorong. Di sebelah kanan, terdapat lobi besar dengan kaligrafi besar di satu dinding dan satu set tempat duduk dari batang pohon yang dipelitur halus. Elegan, batin saya. Tak perlu ‘ramai’ dengan dekorasi, kesederhaan dan kenihilan dari ornamen yang tidak perlu justru membuat ruangan ini terlihat mencolok.
[caption id="attachment_293870" align="aligncenter" width="614" caption="lobi cantik"]

Kompleks pondok pesantren ini terdiri dari 10 lantai, kesimpulan yang saya dapat dari papan petunjuk yang terpampang di satu sisi ruangan. Hanya karena memang belum selesai sepenuhnya, ditambah dengan tidak adanya peta yang memudahkan pengunjung untuk menyusuri Masjid Tiban ini; agak sedikit membingungkan untuk memulai perjalanan dari mana dan berakhir di mana. Alhasil waktu itu pokoke muter-muter. Wongmasjid ini memang cantik banget.
Nuansa biru-putih, emas, pelan-pelan ditemani dengan warna-warna lain. Merah, hijau. Chandelier berkilau juga terpasang di langit-langit. Lorong yang dibuat tidak beraturan, alias akan membingungkan tanpa papan petunjuk justru membuat ‘petualangan’ di masjid ini terasa lebih menyenangkan karena membuat penasaran. Setiap lantai juga memiliki tema yang berbeda, misalnya perpaduan emas merah ornamen China, termasuk lampion, yang bisa ditemukan di lantai 4, kalau tidak salah ingat (tuh kan, bingung).


Tak hanya interiornya yang cantik, setiap lantai Masjid Tiban ini memiliki teras terbuka yang juga didesain sama cantiknya. Ada pendopo dengan lampu-lampu gantung, ada juga kolam ikan dengan pinggiran yang lagi-lagi dipenuhi dengan kaligrafi. Ngomong-ngomong, bagaimana caranya ya membuat ornamen dengan ukuran kecil dan detail luar biasa seperti itu? Baru membuatnya, terus mengecatnya? Jangan dibayangkan mudah, lha wong latar belakang temboknya putih, misalnya, lalu ada kaligrafi timbul dengan ukuran mungil yang dicat berwarna biru. Harus menggunakan kuas kecil-kecil dan pasti memerlukan ketelitian dan kesabaran lebih (mungkin mirip seperti main Flappy Bird? Hahahaha).
Arsitektur Masjid Tiban yang menawan ini ternyata bukan hasil karya arsitek profesional. Menurut cerita, sang pemilik pondok pesantren, K.H. Achmad Bahru Mafdloludin Sholeh (Romo Kiai Ahmad), melakukan salat istikharah dan mendapatkan petunjuk untuk membangun masjid ini. Luar biasa. Selama di sana saya tak henti-hentinya berdecak kagum, eh ini bagus ya, ah itu cantik, wow itu keren.
Jadi kalau ke Malang, mampir ke Masjid Tiban ya. Semoga sudah jadi dan menjadi tambah cantik!
XOXO,
-Citra
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI