PROLOG
Pada tahun 1810, Pulau Jawa resmi menjadi koloni Perancis di bawah Kaisar Napoleon Bonaparte, yang sebelumnya telah menganeksasi Negeri Belanda dengan membubarkan Royaume de Holland dan menurunkan adik kandungnya sendiri Louis Bonaparte (Lodewijk I). Jan Willem Janssens, seorang Jenderal Divisi yang sangat memuja Napoleon diutus ke Batavia untuk menggantikan Hermann Willem Daendels, seorang Belanda yang pro Napoleon namun dianggap terlalu otoriter dan kejam, untuk menjadi Gubernur Jenderal pada 1811. Daendels selanjutnya ditarik pulang untuk memimpin pasukan Perancis yang menginvasi Russia.
Musuh bebuyutan Perancis, Inggris yang berpangkalan di India, mulai menyerang Pulau Jawa pada Agustus 1811, ketika armada Inggris berkekuatan 100 kapal memadati perairan Teluk Batavia dan mendarat tanpa perlawanan dari tentara gabungan Perancis - Belanda di pantai Ancol dan Cilincing. Pasukan pertahanan kolonial Perancis sudah mundur duluan untuk menyusun pertahanan di Meester Cornelis (sekarang Jatinegara) dan pertempuran berat sebelah berlangsung selama 17 hari yg akhirnya dimenangkan pasukan Inggris pimpinan Lieutenant General Sir Samuel Auchmuty. Janssen dan perwiranya melarikan diri ke Semarang via Buitenzorg dan dilanjutkan melalui jalan raya pos yang dibangun oleh Daendels. Pertempuran di Meester Cornelis tidak saya ceritakan detail, karena sudah banyak sumber lain yang lebih komprehensif.
TIBA DI SEMARANG 1 SEPTEMBER 1811
Gubernur Midden Java Brigadier General von Winkelman menyambut kedatangan Janssen dan rombongannya yang letih di villa Gubernur di Bojong (sekarang jadi rumah dinas Gubernur Jawa Tengah di bundaran Tugu Muda). Setelah beristirahat sebentar, Janssen memerintahkan pasukannya untuk mengambil posisi bertahan di perbukitan Jatingaleh, sekitar 10 km ke arah selatan, yang telah dipersiapkan oleh von Winkelman sebelumnya. Selain memanfaatkan posisi ketinggian (higher ground) untuk mencegat gerakan pasukan Inggris dari kota bawah, ia juga mempersiapkan jalur pelarian berikutnya ke arah Salatiga dan kemudian Surakarta. Di kota itulah, ia berencana untuk mencari perlindungan ke Surakarta.
Markas besar pasukan Perancis berada di Fort Willem II, sebuah benteng kecil di Ungaran yang sampai saat ini masih ada dan digunakan sebagai museum. Bala bantuan datang dari Surakarta dan Yogyakarta, termasuk Legiun Pangeran Prang Wedono berkekuatan 1200 orang, yang telah mendapat pelatihan kemiliteran dari Perancis dan di kemudian hari dikenal sebagai Legiun Mangkunegaran.
Garis pertahanan kedua dibentuk di Tuntang, di jalur sempit di antara perbukitan Banaran dan Danau Rawa Pening, dengan markas pertahanan di Salatiga.
KEDATANGAN TENTARA INGGRIS DI SEMARANG
Selasa 10 September 1811, armada Inggris berkekuatan 13 kapal perang berlabuh di perairan pelabuhan Semarang. Komandan tentara Inggris, Sir Auchmuty mengirim 2 orang perwiranya, Colonel Agnew dan Captain Elliot Minto, menemui Janssen di villa Bojong untuk menyampaikan surat dari Raja Muda Inggris di India Lord Minto agar Perancis menyerah. Perundingan gagal karena Janssen menolak menyerah dan segera memerintahkan anak buahnya mundur ke Jatingaleh.
Admiral Stopford, komandan armada Inggris, memerintahkan perebutan kapal-kapal perang Perancis yang berlabuh di pelabuhan Semarang, yang ternyata sudah ditinggalkan kosong oleh awak kapalnya, bahkan meriamnya pun sudah diangkut semua ke perbukitan Jatingaleh. Nyaris tidak ada perlawanan berarti terhadap serangan Inggris ini. Selepas perebutan kapal perang Perancis, Stopford memerintahkan armadanya meninggalkan pasukan darat, untuk menyerang Fort Lodewijk di Surabaya. Auchmuty sempat geram karena pihak British Navy tidak mengikuti perintahnya.