Sejauhmana kualitas puasa ramadan yang dijalani adalah gambaran perilaku kita 11 bulan berikutnya. Mengapa? Sebab ramadan adalah bulan pelatihan/training jiwa. Maka hasil yang diperoleh mestinya linear dengan perilaku yang ditampilkan setelah ramadan usai sampai ramadan hadir kembali. Tidak berlebihan apabila dijelaskan bahwa ada korelasi positip antara puasa yang dijalankan pada bulan ramadan dengan tampilan perilaku 11 bulan pasca ramadan.
Faktor apa saja yang mempengaruhi adanya korelasi tersebut? Â
1) Kekuatan Niat
Niat menjadi pondasi bagi tercapainya cita-cita. Apabila niatnya kuat biasanya akan mendorong semangat yang juga kuat. Demikian juga dalam berpuasa. Ketika niatnya untuk meningkatkan kualitas taqwa itu kuat, maka semangat untuk mencapai juga cenderung kuat. Kuatnya semangat inilah yang akan mendorong seseorang mencapai tujuan.
Contoh: seseorang dalam menjalankan puasa mempunyai niat untuk menekan kebiasaan senang marah dan tidak berat menjalankan salat dhuha. Ketika niatnya kuat, biasanya setelah puasa kebiasaan marahnya juga berkurang secara bertahap, kebiasaan salat dhuha juga cenderung dilaksanakan,dll. Kalau kondisinya demikian, maka orang tersebut termasuk berhasil meningkatkatkan kualitas taqwanya. Â Dengan demikian kekuatan niat dalam mencapai aspek-aspek peningkatan kualitas taqwa juga berpengaruh pada keberhasilan seseorang dalam menjalani puasa. Keberhasilan puasanya akan berkorelasi pada perilakunya pasca menjalankan puasa ramadan.
2) Usia
Puasanya anak-anak tentu berbeda dengan puasanya seorang remaja maupun orang yang sudah usia tua. Perbedaan yang mencolok terletak pada cara merasakan kondisi lapar dan dahaga. Bagi anak-anak, lapar dan dahaga bisa saja dianggap menjadi sesuatu yang menyiksa. Namun lapar dan dahaga adalah latihan untuk masa remajanya. Sebab ketika anak-anak tidak dibiasakan puasa, biasanya terasa berat masa remajanya mau berpuasa. Â
Bagi remaja lapar dan dahaga dianggap sebagai kondisi yang mengganggu aktivitasnya rutinnya. Namun bagi orang tua, tentu relatif sudah bisa merasakan lapar dan dahaga sebagai bagian untuk mengasah empati dan sikap penyerahan diri kepada sang Pencipta. Walaupun tidak ada jaminan, bahwa orang tua mesti puasanya lebih berkualitas dibanding remaja. Semua bergantung pada cara mengolah hati selama menjalankan puasa bulan ramadan. Yang pasti, puasanya anak-anak adalah latihan menahan lapar dan dahaga. Namun usia menjadi salah satu faktor yang dapat mempengaruhi adanya keberhasilan seseorang meningkatkan kualitas taqwanya melalui puasa.
3) Ilmu
Penguasaan ilmu yang berkaitan dengan puasa bulan ramadan juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi adanya korelasi puasa yang dijalani pada bulan ramadan dengan ucapan, tindakan dan perilakunya 11 bulan pasca ramadan. Makin tinggi ilmu seseorang memahami tentang nilai-nilai serta hikmah dibalik peruntah puasa, makin berpengaruh pada kualitas jiwanya. Makin berkualitas jiwa seseorang, akan berkorelasi pada ucapan, tindakan dan perilakunya. Apabila kualitas jiwa itu diperoleh pada saat seseorang menjalankan puasa ramadan, maka 11 bulan pasca ramadan akan terkena percikan hikmah puasa bulan ramadan.
4) Pengalaman Spiritual
Dalam menjalani interaksi vertikal yang bersifat "teosentris" atau ilahiyah, adakalanya seseorang mendapatkan pengalaman spiritual. Biasanya situasi ini bersifat subyektif. Demikian juga dalam menjalani puasa bulan ramadan. Ketika dalam melakukan proses pengasahan jiwa, seseorang mendapat pengalaman spiritual, biasanya upaya mengasah jiwanya lebih cepat dirasakan. Misalnya seseorang berusaha berinfaq tiap hari selama bulan ramadan. Dalam perjalanan berinfaq tersebut ia merasa lebih tenang jiwanya dan merasa lebih dekat dengan Allah SWT dibanding sebelum ia berinfaq rutin tiap hari di bulan ramadan. Maka pengalaman spiritual tersebut cenderung berpengaruh pada perilaku berdermanya di luar bulan ramadan.
5) Pembiasaan Hidup Islami
Pembiasaan hidup islami, juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas puasa seseorang. Kebiasaan berzikir, puasa sunah, tadarus al qur'an, menjalankan salat sunat rawatif, salat dhuha, infaq, sedekah, dll merupakan penopang yang dapat lebih mudah mendapat hikmah puasa yang dijalani seseorang dibanding orang yang belum mempunyai pembiasaan hidup yang islami. Maka orang yang sudah mempunyai pembiasaan hidup islami, upaya mengasah jiwanya relatif lebih mudah dan terarah. Ibarat pisau, tinggal menajamkan ulang secara terus menerus.
Puasa adalah bulan pelatihan, maka hasil pelaksanaan hasil pelatihannya adalah 11 bulan setelah ramadan. Orang yang berhasil puasanya adalah orang yang mampu terus menerus meningkatkan kualitas ketaqwaaan. Setidaknya bisa mempertahankan amalan yang sudah dilakukan selama bulan ramadan dapat dipertahankan setelah ramadan usai. Oleh sebab itu tidak berlebihan apabila dijelaskan ada korelasi positif perolehan puasa ramadan dengan perilaku yang ditampilkan pada 11 bulan pasca ramadan.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI