Lama aku tak menyentuhmu, bukan aku tak mengingatmu namun isi otakku membludak sampai-sampai aku terkapar tanpa instruksi dan doa pendamping. Satu waktu aku terhenyak lalu terduduk dengan tatapan tak bernilai, apakah statusku saat ini masih manusia atau berubah menjadi sebuah mesin?.
Waktu berlalu sangatlah cepat, bulan dan matahari sering lupa pamit padaku. Aku terborgol disini, bukan tanpa daya tapi semata karena rentetan tanggungjawab moralku ada disini, padahal dengan sangat tahu aku sampaikan bahwa yang aku lakukan seakan samar melihat garis finish.
Pernah hatiku berbisik, jadi manusia ko tidak bermanfaat?
Dengan sigap aku menyanggah "enak saja kau berbisik, list manusia disekitarku ada disini, aku memikirkan mereka".
Lalu otakku menimpali, jadi manusia ko mau dikerjain?
Sedikit emosi aku menyambar, " enak saja kau timpali, aku cinta pekerjaanku, ini tugasku membangun keluarga keduaku".
Ya, saat ini aku yang lemah, aku yang kalah dan aku yang salah.
Bukan salah tempatku mencari rezeki, tapi mungkin aku yang terlalu membuat semuanya serba mudah.
Bukan salah manusia tempatku bercerita, tapi mungkin aku yang kurang memahami isi kepala beliau.
Bukan pula salah manusia sekelilingku, tapi mungkin aku yang harus lebih mendekatkan diri pada mereka.
Satu hari pernah aku sampaikan bahwa jadi pekerja itu harus mencintai pekerjaannya, agar kau menikmati setiap sulaman pekerjaanmu.