Tdk boleh sesat diudara karena tdk ada cara survivalnya, kecuali tdk jatuh bergedebuk ke tanah, kalau tdk meledak bersama pesawat yg naas itu. Oh ya mash mungkin bisa selamat kalau pake parasut atau jatuh ke air. Saking takutnya suami istri Jerman yg sy ajak ngobrol mengatakan bhw mrk tdk pernah pergi kemana mana, selain menggunakan jalan darat ataupun laut? Saya tersenyum krn mrk ingin ke Indonesia atau Bali spt yg mereka tahu. Banyaknya kecelakaan udara telah menjadikan bbrp orang mengurungkan niatnya utk terbang, tp angka atau jumlah itu tdk signifikan thdp jumlah mereka yg tetap terbang. Sekali waktu terbang di dalam negeri menjadi sangat murah, sehingga pns dpt membeli tiketnya yg biasanya selalu menggunakan kapal laut. Saking murahnya sampai sampai ada pilot yg mabuk, ngobat dan tertidur padahal lg nyetir pesawat. Agak kontras mmg tiket murah tapi pilot bisa beli narkoba yg mahal harganya. Tapi mmg konyol krn utk berani bbrp orang menggunakan alkohol atau minuman keras utk mengatasinya, misalnya utk terus maju mengarungi/melewati jeram yg berbahaya di sungai sungai besar di kalimantan, mrk menengak topi miring dulu. Pesan pd tulisan ini menyarankan utk membawa doa khusus utk perjalanan udara seperti itu. Teori gerak peluru bahkan memungkinkan pswt terbang tanpa awak dimasa yg akan datang? Apa tdk bertambah ngeri tuh kalau sekarang naik pswt yg penting bawa minum sendiri utk di atas, kalau tdk harus beli haahaaa. Dasar pelit habis gitu botolnya mrk kumpulkan pula utk dijual ulang hahaaaa. Tapi kalau sdh ada tol langit bisa lebih cepat lagi donk
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI