Dalam dunia marketing, surat testimoni sudah tidak asing lagi. Berlomba-lomba perusahaan rintisan ingin mendapat testimoni. Semakin banyak komentar positif, semakin banyak meraup pembeli.
Namun bahasan kali ini, saya persempit dalam lingkup testimoni terkait pekerjaan atau disebut surat referensi bekerja, dikenal juga dengan To Whom it May Concern.
Sejak 2 tahun lalu, saya baru sadar betapa pentingnya surat ini setelah mengalami kesukaran melamar pekerjaan di salah satu hotel yang memang amat disiplin dalam melengkapi prasyarat.
Ditemukanlah 3 terlengkapi, 3 surat tidak diketemukan. Kala itu bukan hanya surat testimoni yang harus dilengkapi sebagai syarat, tapi juga ijazah terakhir, surat lamaran, curriculum vitae (CV). Alhasil dalam satu badan e-mail memuat banyak lampiran dokumen.
Dahulu saya pandang masalah itu ribet sebab harus menghubungi 3 hotel guna mendapatkannya. Syukurlah saya masih terhubung dengan mereka.
Semua ingin serba cepat, kirim CV, wawancara, lalu lolos. Persyaratan tetap dilengkapi walau akhirnya gagal karena proses perekrutan yang tidak jelas, menggagalkan angan-angan.
Tapi ada sebuah pelajaran yang dapat dipetik. Saya benahi semua dokumen, mulai melaminating dan mengelompokkan sesuai tanggal lalu menyimpannya dalam soft copy. Rampunglah pekerjaan itu dalam 2 hari.
Akibat terburu-buru saat mengundurkan diri, terpesona hotel baru, akhirnya terlupakan.
Memohon surat testimoni dari mereka yang berintegritas tinggi
Surat testimoni sebagai bukti kita pernah bekerja di suatu perusahaan. Surat yang kita miliki selalu berasal dari Personal Manager atau HRM.
Bahasan saya yaitu ingin berbagi ide bahwa beberapa jabatan lain dapat juga kita mintakan lembaran testimoni. Siapa mereka?