Pandemi Virus Corona membuat ketakutan banyak orang. Bahkan, berita yang muncul baik di media televisi maupun media online sangat sensitif. Apalagi, informasi yang berseliweran di media sosial membuat perasaan banyak orang ikut hanyut. Meskipun, kebenaran informasi belum bisa dipertanggungjawabkan.
Akhirnya, masyarakat membuat keputusan yang di luar logika. Salah satunya adalah aktifitas Panic Buying. Sebuah fenomena kalap belanja secara besar-besaran, dalam menghadapi kondisi wabah COVID-19.
Kalap Belanja
Saya sering belanja di salah satu supermarket terbesar di Kota Denpasar, yang letaknya tidak jauh dari Jalan Sudirman. Ada hal yang menarik dari kebiasaan (habit) pengunjung. Setiap tanggal 1-5, maka pengunjung membludak. Juga, menjelang tahun baru dan hari raya.
Jadi, jika banyak pengunjung yang membludak di luar waktu-waktu tersebut, maka ada hal yang menjadi penyebabnya. Menjelang akhir Maret 2020 lalu, berita COVID-19 mulai menyebar. Dan, menjadi perbincangan serius di masyarakat. Berbagai informasi yang beredar, di berbagai negara melakukan aksi Lockdown untuk mencegah penyebaran Virus Corona.
Banyak informasi yang menampilkan aksi Panic Buying atau kalap belanja. Ada aksi yang memborong Alat Pelindung Diri (APD), masker, Hand Sanitizer untuk keamanan diri dari paparan COVID-19. Bukan itu saja, banyak stok barang di beberapa supermarket yang kosong.
Â
Aksi Panic Buying pun merebak di Indonesia. Meskipun, Pemerintah belum mengeluarkan kebijakan apapun. Seperti. kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Juga, Pemerintah Bali belum mengeluarkan kebijakan strategis. Maka, aktifitas masyarakat masih berjalan normal. Anjuran untuk memakai masker dan Hand Sanitizer pun belum gencar dilakukan.
Meskipun, kondisi Bali masih adem ayem. Dalam arti, saya melihat masyarakat belum masif memakai masker. Namun, aksi Panic Buying justru telah merebak. Supermarket yang telah saya sebutkan di atas, justru diserbu pengunjung. Hampir 5 kali lipat dari hari biasanya. Antrian di kasir mengular.
Saya menyusuri setiap rak belanjaan. Dan, melihat banyak orang yang kalap belanja. Troli besar telah dipenuhi dengan barang belanjaan. Bahkan. Rak yang berisi mie instan telah ludes tak bersisa. Sungguh, kondisi yang di luar perkiraan saya. Saya melihat banyak orang yang kalap belanja. Mereka takut tidak kebagian bahan pangan.

Tidak Berkeadilan
 Mari belajar dari kasus masker. Banyaknya orang yang kalap belanja. Baik untuk dijual kembali. Maupun, untuk ditimbun menunggu harga melonjak tinggi. Dampak dari aksi tersebut adalah stok masker di pasaran hilang seketika. Banyak orang yang bingung untuk membeli masker.
Akhirnya, karena stok masker jarang di pasaran. Membuat harga masker melonjak tinggi hingga 20 kali harga normal. Semula harga masker adalah Rp 25 ribu per boks dengan isi 50 lembar. Melonjak tajam hingga Rp 400 ribu per boks. Bahkan, ada yang tidak punya hati hingga menjual di atas Rp 500 ribu per boks.
Bukan itu saja, aksi tipu-tipu menjual masker pun sering terjadi secara online. Tahukan anda, bahwa aksi Panic Buying atau kalap belanja menimbulkan kondisi yang tidak berkeadilan. Masker adalah milik semua. Setiap orang seharusnya bisa mendapatkannya dengan harga yang normal.
Namun, kenyataannya, masyarakat tidak bisa mendapatkan dengan mudah. Perlu uang lebih untuk mendapatkan produk yang diinginkan. Bahkan, masyarakat pun rela melakukan tindak kejahatan. Memanfaatkan momen langkanya masker. Â
Dengan kata lain, fenomena kalap belanja bisa melanggar hak lain. Anda memang punya uang lebih. Dan, bisa menghabiskan uang untuk kebutuhan anda. Namun, di saat anda belanja "di luar kewajaran", maka secara langsung, anda telah melanggar hak orang lain. Karena, orang lain juga berhak belanja barang, yang seperti anda beli.
Itulah sebabnya, banyak pihak manajemen supermarket sering memberikan informasi tentang batasan belanja pada sebuah produk. Sebagai contoh, harga minyak goreng dijual dengan harga promo Rp 18 ribu per 2 liter. Harga normal berkisar antara Rp 22-26 ribu per 2 liter. Harga tersebut membuat banyak orang yang kalap belanja. Bahkan, stok minyak goreng bisa diborong oleh satu orang yang mempunyai uang.
Namun, keinginan pengunjung akan terkontrol dengan adanya batasan belanja. Contoh, belanja maksimal 2 kantong. Maka, setiap pengunjung bisa memanfaatkan promo tersebut. Ini adalah perwujudan keadilan pengunjung yang diterapkan oleh pihak manajemen supermarket.
Berbeda dengan kasus borong belanja, saat saya belanja di supermarket yang telah saya sebutkan di atas. Para pengunjung yang kalap belanja, secara langsung melanggar hak orang lain.
Saya yang berhak untuk belanja mie instan pun terpaksa gigit jari. Bahkan, beras yang termurah pun habis diborong pengunjung. Yang ada hanyalah beras premium, yang harganya membuat saya mengernyitkan dahi.
Alasan yang MendasariÂ
Fenomena kalap belanja di supermarket disebabkan karena beberapa faktor. Pertama, ada perasaan takut yang dialami banyak orang. Takut tidak kebagian barang yang menjadi kebutuhan rumah tangga. Oleh sebab itu, terjadi aksi borong barang belanjaan, sebelum keduluan orang lain.
Kedua, kalap belanja karena untuk kebutuhan beberapa hari, mingguan atau bulanan. Karena, informasi simpang siur atas kebijakan lockdown yang belum bisa dipertanggungjawabkan. Maka, masyarakat membuat keputusan sendiri. Salah satu hal yang dilakukan adalah aksi kalap belanja kebutuhan sehari-hari.
Dan, barang belanjaan tersebut sebagai antisipasi, jika Pemerintah menguluarkan kebijakan lockdown atau sejenisnya secara mendadak. Alasan tersebut sebagai sikap antisipasi. Meskipun, pada dasarnya dilakukan karena persaan takut.
Ketiga, masyarakat melakukan aksi kalap belanja karena mereka mempunyai uang lebih untuk membelinya. Mereka bisa melakukan apa saja dengan uangnya. Bahkan, bisa belanja yang di luar kewajaran.
Berbeda dengan masyarakat dari kalangan bawah. Mereka dalam kondisi adem ayem. Tidak tergoda untuk melakukan aksi kalap belanja. Karena, mereka yang tergolong kalangan bawah, tidak semudah mengeluarkan uang. Mereka harus mengaturnya sebaik mungkin. Bahkan, banyak yang tidak mempunyai uang untuk belanja kebutuhan sehari-hari.
Pantesan, mayoritas yang melakukan kalap belanja adalah masyarakat yang menampilkan bak nyonya-nyonya besar. Menenteng tas ala selebritis. Tampilan mereka terlihat modis. Sambil memlih barang belanjaan, smartphone tidak lepas dari genggaman tangannya. Jemarinya terlihat mengoperasikan smartphone. Dan, tidak sedikit yang terlihat melakukan panggilan telepon sambil memilih barang belanjaan. Â
Keempat, stok barang supermarket yang komplit. Supermarket yang saya jelaskan di atas, memang terkenal sekali dengan stok belanja yang komplit. Bukan itu saja, halaman parkir yang luas membuat pengunjung yang membawa kendaraan, khususnya roda empat bisa bebas belanja.
Saya sering melihat mobil pribadi merapat ke dekat halaman teras supermarket. Beberapa karyawan supermarket membantu pengunjung untuk memasukan barang belanjaan  ke dalam mobil.
Kadang, saya berpikir, "Ya Allah, tuh orang belanjaan banyak amat ya. Mau dijual lagi atau untuk keperluan bulanan". Tidak sedikit pengunjung yang menghabiskan uang belanja hingga jutaan. Hanya untuk belanja kebutuhan sehari-hari.
Namun, apapun alasannya, kalap belanja sangatlah merugikan. Sebuah tindakan yang tidak berkeadilan. Karena, orang lain tidak kebagian barang belanjaan apa yang mereka inginkan. Jangan karena banyak uang, maka mereka bisa membeli segalanya. Sementara, orang lain hanya gigit jari.
Di akhir tulisan ini, saya hanya ingin menyadarkan, khususnya saya sendiri. Bahwa, kalap belanja dengan mengorbankan hak orang lain, sangatlah tidak pantas untuk dilakukan. Bahkan, fenomena kalap belanja merupakan tindakan yang tidak berkeadilan. Belanjalah secara normal untuk kebutuhan harian.
Janganlah memborong barang belanjaan dengan tujuan yang tidak baik. Seperti, menimbun barang dengan tujuan untuk dijual lagi dengan harga yang tidak masuk akal (kasus masker). Meskipun, anda mempunyai banyak uang. Berilah peluang untuk orang lain. Agar, mereka juga bisa membeli barang tertentu dengan harga yang nprmal.
Â
Sadarilah bahwa  ketika anda mendapatkan haknya, maka di luar sana ada hak orang lain.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI