Mohon tunggu...
Casmudi
Casmudi Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Seorang bapak dengan satu anak remaja.

Travel and Lifestyle Blogger I Kompasianer Bali I Danone Blogger Academy 3 I Finalis Bisnis Indonesia Writing Contest 2015 dan 2019 I Netizen MPR 2018

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Malaikat dan Syetan Pun “Putus Asa” Kepada Koruptor Indonesia

20 Maret 2014   14:48 Diperbarui: 24 Juni 2015   00:43 401
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
1395276335469210696


Indonesia memang luar biasa. Kekayaan yang berlimpah, sumber daya manusia yang berlimpah, dan terakhir menyandang predikat baru “koruptor yang berlimpah”. Sungguh prestasi yang “membanggakan” bagi golongan tertentu yang dapat menikmati hasilnya. Maaf, kalau saya tidak!

Dilihat dari kacamata agama, tindakan koruptor merupakan tindakan dosa besar karena telah membunuh ratusan bahkan jutaan manusia Indonesia yang tak berdosa. Kekayaan Indonesia hampir 1000 triliun hilang setiap tahunnya (kata Kang Mas Prabowo Subianto) dalam iklan politiknya.

Koruptor di Indonesia memang fenomenal. Jiwa “merampoknya” sudah mendarah daging. Mungkin dalam bahasa gaulnya ”kalo elo nggak korup, nggak keren coy”. Saya yakin, bahkan haqul yaqin bahwa koruptor di Indonesia memahami betul apa yang dilakukannya adalah merupakan dosa besar. Tapi karena kebutuhan dan sifat “kemaruknya” membuatnya ketagihan lagi. Pertama kali korup mungkin sadar, mereka telah melakukan ajakan syetan yang terkutuk dan kembali ke jalan yang benar sesuai ajakan malaikat. Akhirnya syetan dan malaikat pun berdebat.

Kata Syetan : “gue seneng banget gampang sekali menggoda pejabat Indonesia untuk korupsi”.

Sedangkan kata Malaikat : “gue juga seneng banget kok mengembalikan pejabat korup untuk bertobat untuk kembali jalan yang benar”.

Tetapi yang terjadi beberapa tahun belakangan, para syetan dan malaikat sedang “galau” alias putus asa. Mereka tidak mempunyai pekerjaaan lagi. Syetan gak mampu menggoda pejabat untuk korupsi lagi. Malaikat pun sama. Meraka gak mampu mengembalikan pejabat yang korup untuk kembali ke jalan yang benar.

Setelah ditelusuri, koruptor Indonesia tidak perlu digoda lagi. Mereka sudah terbiasa alias secara rutin merampok uang rakyat. Lebih hebatnya lagi dari kayu, semen, aspal, kertas dan lain-lain dimakan. Akhrnya, Syetan banyak yang putus asa. Karena sebelum menggoda, koruptor sudah tidak tergoda lagi. Tidak mempan lagi! Mereka sudah memasuki dunia baru, yaitu: rutinitas “mengkorup” uang rakyat.

Sama halnya dengan malaikat. Mereka sudah tidak punya pekerjaan lagi untuk menangani koruptor. Koruptor Indonesia sudah kebal terhadap godaan malaikat untuk kembali ke jalan yang bemar. Koruptor bilang “wong, pekerjaan enak kok dilarang. Gak mempan!”. Saking nyamannya, koruptor Indonesia di saat tertangkap, mereka gak sedih kok. Di depan kamera mereka melambaikan tangannya tetap tersenyum sumringah. Tidak seperti orang yang maling ayam yang tertanggkap dan disorot kamera wartawan mereka menutup mukanya karena malu. Ayamnya gak dapat, malunya dapat. Penjaranya juga dapat.

Berbeda dengan para koruptor di Indonesia. Meskipun tertangkap, mereka masih tersenyum. Mukanya pun masih tetap ceria.Di saat wawancara pun kadang koruptor dan istrinyaberkata “doain saya yah biar kuat dengan cobaan ini”. Karena, mereka yakin apa yang dilakukannya tetap benar, meskipun akhirnya masuk hotel prodeo. Mungkin dalam hatinya mereka berkata “mengapa korupsi enak kok dilarang!”. Akhirnya, mereka membayar sipir penjara agar bisa keluar masuk dengan bebas. Membayar jaksa atau hakim. Jadi hukumannya tidak seperti di luar negeri, tetapi cukup potong tahanan. Nanti kalau keluar penjara bisa cepat-cepat korupsi lagi. Hebat yah!

Di saat itulah syetan bersedih, tidak bisa menggoda lagi. Orang, sudah tergoda duluan para koruptornya. Malaikat pun tak kalah “galaunya”. Para koruptor sudah nyaman sebagai profesi barunya “Pekerjaan : koruptor keren”. Oleh karena itu, hanya koruptor di Indonesia yang mampu membuat “putus asa” syetan dan malaikat. Kasihan syetan dan malaikat. Bagi saya, “tunjukkilah kami ke jalan yang lurus”.

Denpasar, 20 Maret 2014

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun