Argh,,,, Aku Gendut,,,
Pagi ini Dinda bangun tidur dengan sangat malas sekali karena semalam ia tidur hanya sebentar. Ia memaksa bangun dengan berat sekali. Dirumahnya, jalan menuju kamar mandi melewati cermin yang besar, sudah menjadi kebiasaan Dinda untuk menoleh ke arah cermin jika ada cermin yang besar karena Dinda termasuk tipe wanita yang memperhatikan bentuk fisiknya. Namun, pagi ini lain. Ia tetap menoleh ke arahcermin dan melewatinya, tiba-tiba ia kembali lagi untuk melihat cermin dan memperhatikan bentuk tubuhnya. Dinda kaget karena Ia terlihat sedikit gemuk berisi di cermin, apakah cerminnya salah atau Dinda yang melihat karena masih mengantuk. Dinda terus menatap cermin sambil memperhatika tubuhnya. Dia teringat bahwa akhir-akhir ini tugas kuliahnya sangat banyak karena beberapa minggu lagi dia akan menghadapi ujian akhir. Disela-sela mengerjakan tugas yang sampai larut malam itu Dinda tidak lupa menyediakan camilan di samping laptop nya. Hingga jika pagi hari tiba, ia harus membereskan bungkus-bungkuscamilan semalam yang tak terasa sampai tiga atau empat bungkus setiap malam.
Pagi ini, Dinda menyesal karena terlalu banyak memakan camilan pada malam hari yang justru membuat dirinya semakinterlihat berisi dan menurut Dia kurang cantik. Pada saat itu, dia berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, untuk menahan nafsu nyemil nya. Tapi, apa yang terjadi besok?, Dia tetap melaksanakan nyemil rutinannya itu dan keesokannya Dia menyesal lagi. Begitupun seterusnya.
Nah, para pembaca, apakah pernah anda seperti Dinda?
Kasus seperti ini dinamakan Gangguan Makan atau “Eating Disorder”. Di berbagai dunia, terdapat banyak orang yang terobsesi untuk menjadi kurus. Karena bagi mereka kurus itu cantik. Gangguan makan ini sendiri memiliki karakteristik pola makan yang terganggu dan cara yang maladaptif dalam mengontrol berat badan. Ada dua tipe utama dari gangguan makan, yaitu Anoreksia Nervosa dan Bulimia Nervosa. Seperti gangguan psikologis yang lainnya, Anoreksia dan Bulimia sering disertai dengan berbagai bentuk psikopatologi, termasuk depresi, gangguan kecemasan dan gangguan penyalahgunaan zat.
Anoreksia Nervosa adalah gangguan psikis dimana penderitanya merasa bahwa dirinya terlalu gemuk dan membiarkan dirinya kelaparan. Penderita ini mencoba mempertahankan berat badan jauh dibawah normal sehingga terlihat sangat kurus. Mereka cenderung menolak makanan meskipun terasa lapar. Sedangakan Bulimia Nervosa adalah gangguan dimana makan secara berlebihan kemudian mencoba mengeluarkan kembali apa yang telah mereka makan, biasanya dilakukan dengan cara memasukkan jari-jarinya ke tenggorokan hingga tersedak dan muntah.
Terdapat satu perbedaan mencolok antara Bulimia Nervosa dengan Anoreksia Nervosa, yaitu adalah penurunan berat badan. Pasien yang menderita Anoreksia Nervosa mengalami penurunan berat badan yang derastis, sedangkan pasien Bulimia tidak. Pada Bulimia, makan berlebihan biasanya dilakukan secara diam-diam, dapat dipicu oleh stress dan berbagai emosi negatif yang ditimbulkannya, dan terus berlangsung hingga orang yang bersangkutaan merasa sangat kekenyangan. Orang dengan Bulimia Nervosa akan hilang kendali ketika makan berlebihan, bahkan hingga ke titik mengalamisesuatu yang mirip dengan keadaan disosiatif, mungkin kehilangan kesadaran terhadap apa yang mereka lakukan dan merasa bahwa bukan diri mereka yang makan berlebihan. Mereka biasanya malu dengan kondisi tersebut dan mencoba menutupinya. Setelah makan berlebihaan, rasa jijik, rasa tidak nyaman, dan takut bila berat badan bertambah memicu tahap kedua Bulimia nervosa, pengurasan untuk menghilangkan efek asupan kalorikarena telah makan berlebihan. Paling sering pasien memasukkan jari-jari mereka ke tenggorokan agar tersedak dan muntah. Penyalahgunanaan obat-obat pencahar dan diuretic serta berpuasa dan olahraga berlebihan juga dilakukan untuk mencegah penambahan berat badan.
Menurut buku Psikologi Abnormal Jeffrey Nevid ada beberapa cara untuk menangani penanganan Anoreksia Nervosa dan Bulimia Nervosa.
Terapi psikodonamika terkadang dikombinasikan dengan terapi perilaku untuk menggali lebih dalam konflik psikologis yang ada. Terapi keluarga juga dapat digunakan untuk membantu mengatasi konflik keluarga yang mendasari. Terapi perilaku telah terbukti efektif dalam meningkatkanberat badan pasien anoreksia selama perwatan di RS. Terapi individual atatau terapi keluarga sebagai kelanjutan dari perawatan di rumah sakit juga telah menunjukkan keuntungan jangka panjang yang positif.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI