Tak berhenti sampai di situ, semakin banyaknya konsumsen informasi yang tak jelas sumbernya itu jelas akan menghambat transmisi pengetahuan bahkan dapat menghancurkan pengetahuan itu sendiri. Fenomena ini disebut Tom Nichols sebagai fenomena anti intelektualisme.
Kita barangkali bersepakat, informasi adalah pengetahuan dan pengetahuan adalah informasi. Namun, di era informasi terjadi konfrontasi antara informasi dan ilmu pengetahuan.Â
Informasi pada pengetahuan seakan mengambil jarak. Terdapat garis demarkasi diantara keduanya. Lamat-lamat, pengetahuan akan terpisah jauh dari informasi.
Peminatan orang awam, dalam hal ini masyarakat biasa, pada informasi lebih besar ketimbang ilmu pengetahuan. Dalam arti, kesadaran akan informasi tidak dibarengi dengan kesadaran akan pengetahuan. Sehingga, informasi yang diterima adalah informasi yang tidak utuh. Kadang, informasi yang diambil adalah informasi yang sesuai preferensinya dan mendukung pendapatnya. Ini disebut sebagai masalah bias konfirmasi. Bias konfirmasi adalah kecendrungan pada informasi yang hanya membenarkan apa yang dipercayai dan menerima fakta yang hanya memperkuat pendapat pribadi.
Pada situasi seperti ini, posisi para pakar dan ilmuan terancam seiring pesatnya perkembangan informasi. Orang awam telah menjadi bayang-bayang yang menghantui objektivitas dan kerja-kerja para profesional. Institusi, lembaga, ilmuan, peneliti, dan pakar yang berkompetensi mengurusi suatu bidang keahlian akan tergantikan oleh orang awam yang tak memiliki spesifikasi bidang apapun namun seolah mengetahui segala sesuatunya.
Dengan modal mesin big data: Google, akan sangat mudah bagi orang awam menjelaskan asal muasal virus covid-19 tanpa harus meneliti dan tanpa mengeluarkan banyak biaya. Ketikan dua jari pada layar gawai smartphone akan sangat cepat bagi orang awam mentracking bahan obat-obatan tanpa harus ke lembaga kesehatan dan membayar dokter mendiagnoisis penyakit yang diidap. Teori konspirasi akan menjadi satu-satunya teori yang diaminkan oleh orang awam daripada harus mengkaji dan berguru pada akademisi dan pakar yang membutuhkan waktu lama.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H