Bolehkah aku merindumu Ibu? Walau bukan engkau yang melahirkanku? Bukan engkau yang merawatku dari kecil hingga aku seperti ini.
Aku tau, begitu banyak dosaku padamu, aku selalu mengabaikanmu, menyalahkanmu atas kesulitan yang kualami.
Aku malu bu, tak pernah sekalipun aku bersimpuh dikakimu, aku merasa itu tak perlu. Aku tak ingin memohon restumu untuk memulai kehidupan baruku.
aku ingat betapa marahnya aku ketika anakmu mengirim uang untuk membantumu membangun rumah? Padahal sebelumnya anakmu meminta izinku dan aku terang-terangan menolak. Menurutku wajar aku marah, anakmu bahkan belum bisa membangun sebuah rumah untukku, tapi dia lebih mementingkan kebutuhanmu walau aku tau rumah Ibu memang sudah pantas untuk direnovasi.
aku ingat satu hari aku pernah berkunjung kerumahmu. Ibu memasakkanku sambal teri dan sayur singkong kesukaanku. Aku tau pasti anakmu sudah bercerita tentang makanan kegemaranku itu hingga makanan itu tersedia. Tanpa malu, aku menghabiskan masakan yang memang benar-benar lezat.
Ibu, aku merasa bersalah atas hubungan aneh yang terjadi diantara kita selama ini. Aku yang tak pernah bertanya kabar tentangmu, Ibu yang malu menelponku karena keterbatasan bahasa yang Ibu gunakan serta berbagai alasan yang lainnya. Namun aku tau ibu, ibu sangat menyayangiku, ibu menghormati dan menghargaiku sama seperti Ibu memperlakukan anak Ibu yang lain.
Maafkan aku Ibu, semoga hubungan kita kedepannya jauh lebih baik daripada hari ini.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H