Malam buram tanpa bintang. Berdesir aroma wangi bersama tawa melalui lubang hawa. Meremang bulu kuduk, sekalipun pengalaman itu bukan yang pertama.Â
Sudah tiga hari aku menginap di sini. Di kota tempat sendu bermuara. Di mana langit enggan biru dan lebih kerap mencumbu kelabu.
Sejak hari kesatu, semerbak itu telah menyelinap ke dalam kamar, tapi ku abaikan. Aku sedang asyik bertualang di belantara frasa, memungut kata-kata.Â
Namun pada malam terakhir yang sunyi ini, inspirasi bergelayut pada awan angan. Ia sepertinya takingin menggali lagi puisi yang ku buat untuk menutup lubang luka.
Aku menyerah. Jemari berhenti mengetuk tombol ketik. Aku meluruskan punggung pada sandaran kursi. Napas menghembus bersama asap putih setelah menyesap buih, menyisakan seperempat botol bir.
Khayal melayang, menyusul ingin yang kian jauh mengikuti angin. Gagasan menyingkir, kelu dalam sudut pilu. Kegiatan menulis puisi terhenti. Sepi.
Lagi-lagi indera penciumanku terusik.Â
Aroma wangi bunga melati?Â
Rasa-rasanya aromanya tidak merebak kuat di udara sedingin ini.Â
Atau. Bisa juga harum bunga kemuning yang menghambur bersama hawa lembab.
Akan tetapi, aku tahu persis, tanaman tersebut tidak tumbuh di sekitar bangunan tua ini.