Merdeka belajar menjadi dua kata yang paling sering digaungkan belakangan ini. Merdeka belajar menjadi fokus utama program pemerintah dalam dunia pendidikan, lantas seperti apa merdeka belajar itu?.
Konsep Merdeka Belajar yang dicetuskan oleh Nadiem Makarim, sebagai menteri pendidikan tujuannya baik, agar peserta didik bahagia dalam menempuh pendidikan. Para siswa diberi kebebasan untuk mengakses ilmu.
Konsep merdeka belajar tidak lagi dibatasi oleh kurikulum, tetapi siswa dan guru harus kreatif, untuk menggapai pengetahuan.
Melihat apa yang di cetuskan menteri pendidikan Bapak Nadiem Makarim sebenarnya ingin menjawab kebutuhan pendidikan saat ini.
Kita berkaca kepada pendidikan yang selama ini berlangsung bagaimana peserta didik ditanamkan untuk menghafal materi pelajaran, mengetahui konsep secara kontekstual, dan belajar dengan tekanan dalam artian takut kepada guru.
Dampaknya siswa menjadi pengumpul-pengumpul data yang terkadang data itu tidak mereka butuhkan bahkan data-data yang tersimpan di memori otak semuanya bisa di akses saat ini dengan mudah melalui media internet.
Persoalan lainnya siswa menjadi penghafal terbaik bukan sebagai pencipta hal ini terlihat setiap olimpiade sains misalnya kita selalu menjadi juaranya. Namun dalam memperoleh Nobel hasil dari mencipta karya mungkin kita belum pernah.
Pembelajaran yang dilakukan dulunya kita hanya kontekstual dimana kita memindahkan isi buku pelajaran ke catatan siswa dan siswa menghafal catatan tersebut selanjutnya dalam ujian akan diujikan oleh guru hasilnya siapa siswa penghafal terbaik akan menjadi juara kelas.
Persoalannya apakah pelajaran yang dihafal siswa tadi mampu dia fahami fungsinya dalam menjalani kehidupan. Terkadang siswa tidak memahami apa yang dipelajarinya dan untuk apa dia pelajari.
Untuk menjawab persoalan yang terjadi dalam dunia pendidikan yang sudah berlangsung lama ini. Dibutuhkan terobosan dan inovasi pemerintah dan keinginan seluruh guru untuk berubah.