Mohon tunggu...
Andy A Krisnandy
Andy A Krisnandy Mohon Tunggu... -

berpetualang di dunia yang sementara ini, semoga kematianku, menjadi akhir yang baik...Amin...

Selanjutnya

Tutup

Olahraga

Seri A, Juventus Sendirian

17 Desember 2012   07:13 Diperbarui: 24 Juni 2015   19:30 298
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Olahraga. Sumber ilustrasi: FREEPIK

Akhir pekan kemarin Liga Italia Seri A memperlihatkan bagaimana Juventus seolah sendirian melenggang di pacuan scudetto. Inter yang dianggap bisa menghambat laju Juventus tak berkutik di tangan Lazio (0-1). Napoli yang digadang-gadangkan  salah satu yang paling konsisten selain Juventus juga setail tiga uang. Terakhir mereka dibekap Bologna, 2-3. Bagaimana dengan Lazio, Roma, Milan, Fiorentina, dan Udinese? sama saja.

Dalam dua tahun terakhir, Juventus seolah kembali ke trek asalnya. Terlepas dengan berbagai skandal sepakbola di Italia, Juventus tetap menjadi suatu klub dengan tradisi juara yang kental. hal yang ditunjukkan Juventus musim 2012-2013 saat ini.

Di saat pesaingnya berjibaku susah payah, Juventus malah konsisten meraih kemenangan. Kekalahan dibayar dengan kemenangan. Ketika pesaing terdekatnya, Inter dan Napoli, kalah, Juventus malah meraih kemenangan. Ketika Juventus mengalami kekalahan, pesaing terdekatnya justru tak mampu memanfaatkan momen baik itu.

Jika melihat kompetisi yang hampir menyelesaikan separuh musim, konsistensi kemenangan hanya berada di tim asuhan Antonio Conte ini. Tim-tim besar lainnya malah sibuk 'baku-hantam' sendiri. Seri A seolah 'rame' untuk memperebutkan peringkat ke-2 ke bawah. Panasnya persaingan hanya untuk memasuki zona Europe Champions League, atau Eroupean League.

Benar, jika kompetisi masih panjang. Benar pula, jika dalam sepakbola semuanya bisa terjadi. Namun, jika melihat pola yang ada, maka sebenarnya Juventus yang berjalan sendirian dalam perebutan scudetto. Mereka konsisten dalam meraih kemenangan. Sementara klub-klub besar lainnya masih bermasalah dengan hal itu.

Bagaimana Juventus bisa seperti itu? Kolektivitas permainan salah satu yang menonjol di sana. Kerja sama antar lini berjalan dengan baik. Ditambah penyelesaian akhir yang baik pula. Mereka tidak 'bingung' bagaimana caranya mencetak gol. Mereka juga tidak 'bingung' bagaimana mengendalikan permainan. Kedalaman komposisi pemain juga terjaga, baik di bench maupun di starting XI-nya. Artinya, mereka tidak tergantung oleh hanya seorang pemain saja. Mereka tetap bermain baik dan meraih kemenangan walau tanpa dirigen lapangan tengah mereka, Andrea Pirlo.

Hal lain yang menonjol adalah sistem pertahanan yang terorganisir denga rapi. Sejak musim lalu, Juventus menjadi tim dengan kebobolan paling sedikit dibandingkan kontestan lainnya. Juga musim ini. Hal tersebut terjadi karena ditunjang dengan pemain-pemain yang bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Musim ini saja, tidak ada tim yang mampu membobol gawang Buffon sebanyak tiga kali dalam satu pertandingan, kecuali Inter.

Hal lain yang membantu Juventus seolah melenggang sendirian adalah inkonsistensi para pesaingnya. Inter, bisa dibilang cukup mengejutkan. Dengan pondasi baru yang dibangun, sebagian besar para pemain 'baru' dan sedikit pemain 'lama' , mampu membaur menjadi kesatuan yang menakutkan. Bahkan, tim asuhan Stramaccioni ini sempat membubuhkan rekor tandang yang fantastis.

Namun, lagi-lagi inkonsistensi kembali menggelayuti. Javier Zanetti dan kawan-kawan kerap bermain baik, tetapi sering juga bermain buruk. Cara mereka bertahan  terlihat lemah walau sudah cukup baik.  Mereka juga kerap 'kebingungan' ketika tak mampu menembus blokade pertahanan lawan. Apalagi, ditambah Sneijder yang tengah berkonflik dengan klubnya sehingga tidak dimainkan. Padahal Sneijder ini salah satu pemain yang bisa melakukan perubahan ketika tim kesulitan menembus pertahanan lawan. Tanpa mengesampingkan pemain-pemain lain, Sneijder salah satu pemain spesial yang dimiliki Inter untuk meraih kemenangan.

AC Milan sebenarnya salah satu tim yang bisa menjadi pesaing berat Juventus. Namun, penjualan dua aktor penting mereka, Ibrahimovic dan Thiago Silva, membuat start Milan musim ini bisa dikatakan buruk. Beruntung mereka mampu meraih serangkaian kemenangan akhir-akhir ini. Sayangnya, cukup terlambat untuk menjadi pesaing berat Juventus.

Napoli seyogyanya tim Italia yang paling konsisten selain Juventus. Entah kenapa mereka juga tak mampu menjadi pesaing berat Juventus. Hanya di awal musim mereka mampu menunjukkannya. Setelah itu, kembali inkonsistensi menghinggapi. Hal yang sama juga dengan tim-tim kuda hitam lainnya, macam: AS Roma, Lazio, Udinese, dan Fiorentina.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Olahraga Selengkapnya
Lihat Olahraga Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun