Dalam membangun usaha membutuhkan persiapan terlebih dahulu. Misalnya peluang pemasaran, kekurangan dan kelebihannya, Â kualitas dan yang lainnya. Hal itu sebagai upaya mengantisipasi keberlangsungan bisnis yang dijalankan. Namun bukan berarti itu yang paling utama. Sebab, bisnis yang baik adalah usaha yang dijalankan bukan yang direncanakan.Â
Hal itulah yang menjadi pegangan Miftahol Arifin dalam menjalankan usahanya. Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata ini sedang mengembangkan usaha ternak puyuh. Dalam sebulan, omzet yang dihasilkan jutaan. Padahal, baginya bisnis yang dijalankan hanya sampingan.Â
Dalam memulai bisnisnya tersebut, Tahol menyiapkan modal sebesar Rp. 15 juta. Biaya tersebut bisa dimanfaatkan untuk membeli bibit puyuh yang siap bertelur, kandang, serta pakan. Hanya dengan Rp. 9 juta bisa mendapatkan 1000 ekor puyuh petelur.Â
"Yang terpenting adalah komitmen untuk menjalankan usaha. Kalau tidak didasari dengan keinginan yang kuat, sulit untuk menjalankan usaha. Misalnya kalo ada cobaan sedikit saja bisa goyah, akhirnya usahanya tidak berhenti ditengah jalan," kata Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata itu.Â
Alumni yang pernah tinggal di bilik daerah I membeberkan, dengan modal Rp. 15 juta bisa mendapatkan omzet hingga Rp. 7 juta. Hal itu bisa peroleh dalam sebulan. Untuk itu, perawatan seperti makanan dan keberhasilan kandang harus dijaga.Â
Mayoritas, persentase puyuh bertelur maksimal antara 80 hingga 95 persen. Jika memiliki seribu ekor dalam sehari bisa menghasilkan 8 atau 10 telur. Sementara harga standar telur puyuh berkisar Rp. 25 ribu perkilo.
"Tinggal dikalikan. Minimal kalau persentase puyuh bertelur 80 persen otomatis yang dihasilkan sekitar 8 kilo. Maka, dalam sebulan kita bisa mendapatkan penghasilan sebesar Rp. 6 juta. Kalau misalnya bertelur sampai 95 persen, penghasilannya bisa sampai Rp. 7,5 juta, " bebernya.Â
Saat ini, ternak puyuh sangat menjanjikan. Pasalnya, telur puyuh sudah dijadikan bahan mentah untuk berjualan. Diantaranya, seperti pentol telur, sate telur, bappeda, telur gulung, dan jajanan lainnya. Dengan begitu, pemasaran juga akan lebih mudah. Apalagi usaha ternak puyuh juga bisa dijadikan usaha sampingan.Â
Menurutnya, dalam menjalankan usaha harus mengetahui dan mengerti cara mengelolanya. Makanya perlu mempelajari dulu sebelum action. Hal bisa dilakukan dengan mengikuti bimtek atau belajar ke sesama pengusaha. Jika sudah mengetahui dan mengerti akan mempermudah proses pengelolaannya.Â
"Kita harus belajar terlebih dahulu bagaimana cara untuk ternak yg baik dengan mereka yang sudah lebih dulu menjalankan. Misalnya pelajari penyakit yang sering menyerang unggas/puyuh serta cara mengatasi dan mengobatinya," kata Tahol.
Perawatan puyuh petelur sangat mudah. Terpenting makanan dan kebersihan kandang dijaga. Untuk makannya sehari 2 hingga 3 kali. Sementara untuk menjaga kebersihannya, kandang dibersihkan dalam 2 hari sekali.Â