[caption id="attachment_196293" align="aligncenter" width="298" caption="riajenaka/dok pri/BCRT/2012"][/caption]
Gareng dan istrinya baru saja mengunjungi istri kang Petruk yang mengalami keguguran. Istri Petruk terpaksa opname karena harus dilakukan kuret.
Pada saat mereka di rumah sakit, istri kang Gareng rupanya sangat iri dengan istrinya Petruk. Pasalnya selama dia bezuk,  tampak bu Petruk sangat disayang. Bahkan terlihat si Petruk terus menerus menangis mewek - mewek sambil memeluk istrinya yang masih belum sadarkan diri akibat bius.
Tak tahan memendam gumpalan irinya, lalu istri si Gareng curhat pada suaminya.
"Kang, aku tadi iri sekali lho sama istrinya kang Petruk"
"Lho, wong kesusahan kok iri, apa maksudmu dik?"
"Aku iri melihat betapa sayangnya kang Petruk pada istrinya, sampai nangis mewek - mewek melihat istrinya keguguran, nggak seperti kamu kang"
" Lha apa hubungannya Petruk nangis dengan aku?"
"Lho, kamu selama ini tidak sadar ya kang. Coba ingat - ingat pernah tidak kamu nangisi aku kalau pas aku sakit, bahkan saat aku opname hamil anak pertama dan muntah -muntah terus, kamu tenang - tenang. Malah sempat nonton tandingan sepakbola semalaman. Mbok ya seperti kang Petruk itu lho, sayang dan romantis sama istri"
"Oalah dik....dik...wong gitu saja kok iri. Kamu saja yang tidak tahu kalau selama ini diam - diam aku sering nangisi kamu saking sayangnya"
" Lho???? beneran kang? Mosok sih, kapan kamu nangisi aku? sahut istri Gareng sambil ndusel mendekat di sisi Gareng dengan manja.