Hidup adalah persaingan, adalah games. Games dalam hidup ini sering tidak sederhana. Pada sebuah simple game, hanya ada 2 players, tidak ada pihak lain yang bertaruh. Dalam kenyataan, bahkan sebuah game yang libatkan 2 players, akhirnya tidak simple karena ada saja pihak yang bertaruh dengan hasil persaingan.
Terlepas dari apa yang biasa dipropagandakan, pendidikan adalah suatu bisnis, dijadikan bisnis oleh banyak orang. Dan bisnis yang dilakukan banyak pihak, pasti melibatkan persaingan. Bisnis pendidikan adalah games. Siapa yang dalam banyak kasus menjadi real winners, terutama dalam hal pendidikan yang dilakukan swasta?
Real winners nya adalah pemodal. Dalam banyak kasus, merekalah yang paling menikmati efek propaganda 'yang terpenting adalah pendidikan', 'kunci kemajuan bangsa adalah pendidikan' dan sebagainya. Dari masa presiden Suharto sampai sebelum presiden Jokowi, sudah sangat banyak sarjana dihasilkan, tapi kemajuan bangsa ini minim sekali. Kemajuan tersebut masih minim walau pendidikan sudah dapat jatah 20% dari APBN.
Selain hasil pendidikan yang tidak sangat membaik uang sekolah juga makin mahal. Ke  mana larinya uang sekolah yang makin mahal? Guru-guru dan dosen-dosen tidak serta merta makin kaya, demikian juga pegawai-pegawai sekolah dan kampus. Siapa yang paling mungkin untuk makin kaya? Pengurus yayasan dan pemodal.
Saya beberapa kali mendengar pemodal kampus swasta miliki beberapa istri. Memiliki rumah yang bagus juga umum bagi pemodal kampus. Pegawai yang level tinggi bisa punya gaya hidup yang wah. Sementara freshgraduate-nya tetap sulit dapat kerja karena tidak punya skill.
Jadi, next time kita bicara tentang biaya pendidikan, kurangnya perhatian pemerintah, masih kurangnya sarjana, bla-bla-bla; jangan mudah terperdaya. Faktor (uang yang dapat dinikmati) pemodal harus dipertimbangkan. Pendidikan adalah sebuah game yang rumit dengan banyak pihak sebagai pemain.
Apa solusinya? Ada beberapa solusi, untuk masing-masing pihak. Pihak yang dimaksud adalah pemerintah, dosen, yayasan, orangtua, siswa, dan industri. Saya akan bahas di beberapa tulisan berikutnya. Saya rencanakan tulisan berikutnya dimulai dengan filosofi pendidikan.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H