Beberapa malam yang lalu saya menonton sebuah tayangan hiburan di sebuah stasiun televisi, yang mengundang bintang tamu beberapa pekerja seni Tanah Air.
Acara ini sebenarnya cukup menarik dan menghibur. Para pembawa acaranya mampu menggirng penonton untuk tertawa-tawa mendengarkan banyolan mereka.
Akan tetapi, ada satu hal yang cukup mengganggu saya pada acara malam itu. Terjadi tatkala sesi tanya jawab antara para pembawa acara dengan para bintang tamu.
Bintang tamu yang hadir diantaranya adalah seorang wanita pekerja seni yang datang dengan dua anaknya.
Kedua anaknya ini berprofesi sebagai pekerja seni pula, sudah dewasa dan berada di usia yang sangat ideal untuk menikah, namun belum menikah hingga saat ini.
Dalam sesi wawancara tersebut, topik belum menikahnya kedua orang tersebut menjadi pembahasan utama.
Berkali-kali diajukan pertanyaan seputar hal tersebut. Mulai dari pertanyaan mengapa belum menikah padahal telah cukup umur, apakah tidak ingin membahagiakan orangtua dengan menikah, sampai pertanyaan ke sang wanita, bagaimana tanggapannya sebagai ibu perihal anak-anaknya yang belum menikah, serta pertanyaan-pertanyaan lain yang menyangkut hal tersebut.
Saya sebagai penonton sangat risih mendengar banjaran pertanyaan yang terus mendesak bintang tamu dengan topik tersebut. Menurut saya ini sudah terlalu jauh memasuki ranah pribadi orang lain. Tidak etis.
Menikah atau tidak menikah, ataupun belum menikah adalah hak prerogatif persona. Mereka punya pertimbangan dan alasan sendiri mengapa masih bertahan hidup sendiri. Ada kalanya pula mereka tidak ingin berbagi ihwal alasan tersebut.
Sebagai awam saya memang kurang paham dengan tata acara dalam tayangan-tayangan di televisi. Bisa saja topik pembahasan dan semua pertanyaan dalam acara tersebut telah disepakati lebih dahulu di belakang layar dengan bintang tamu.