Mohon tunggu...
Djono Bedjo
Djono Bedjo Mohon Tunggu... -

AKU HANYALAH WAKTU, YANG TERANG KETIKA DATANG, DAN TAK PERNAH PERGI MESKI KAU TAK PEDULI. AKU HANYALAH WAKTU, YANG TETAP SETIA MENUNGGUMU, MESKI KAU BERSEKUTU DENGAN APAPUN. AKU HANYALAH WAKTU DAN KAU TAK AKAN BISA BERLARI DARIKU. (Djono Bedjo Subroto)

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Adam "Ditangkap" Satpam Gramedia

16 Februari 2015   17:27 Diperbarui: 17 Juni 2015   11:06 115
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gadget. Sumber ilustrasi: PEXELS/ThisIsEngineering

Aku bergegas menuju lantai bawah. Adam mengikutiku dari belakang. Ia membawa setumpuk komik Naruto. Itumpukan komik itu keluar toko buku Gramedia.Ia tak peduli dengan risiko. Tak peduli apapun. Komik itu belum dibayar. Deretan pengantre makin membuatnya jengah. Dua kasir di dua lantai tetap dipenuhi  antrean. Aku tak bisa membayar semua buku komik itu. "Tak sesuai perjanjian," pekikku.  Adam ngotot. "Pokoknya harus." Ia mendekap"Naruto" kuat-kuat.

Sambil menggendong Avicenna,  aku makin bergairah menuruni lift dan menuju pintu keluar yang dijaga satpam. Kulihat wajah Adam  tegang. Matanya mulai memerah. Ia gusar, galau, tapi nekat. Ia akan membawa buku-buku komik itu tanpa dibayar. Ini bisa menjadi delik pencurian.  Adam bisa menjadi pencuri buku-buku komik Naruto. Tentu saja ini akan  menjadi kabar besar, di rumah, di sekolah, atau di dunia perkomikkan.

"Gila, anakku akan jadi calon pencuri." Hatiku berdebar-debar. Serasa ada yang seedang melakukan pemberontakan. Mungkin saja ini Muso. Ah bukan. Atau Aidit. "Juga bukan." Jangan-jangan Kolonel Untung sedang menyiapkan pasukan Cakrabirawa dan akan menculik sejumlah jenderal dalam revolusi senyap?? "Gilaaa..." Hatiku ikut berdentam.

Sekelebat aku melihat pasukan Nazi sedang "menggoreng" kaum Yahudi. Aku melihat kumis pemimpinnya: Hitler. Aku melihat pasukan di lapangan tu menjuurkan tangannya ke depan. Aku terus saja bergegas menapaki lantai-lantai dingin Gramedia. "Ada apakah aku sengotot ini??" Entahlah. Aku makin mantab tak akan membayar buku-buku Naruto itu dan kubiarkan Adam ditangkap satpam Gramedia.

Aku tak menggubris  batinku. Kaisar bersejintak mengikutiku. Isteriku  pun berjibaku mengejar langkahku. Sebelum melangkah ke pintu, kulihat mata satpam sudah menusuk ke arah mataku. Aku tak memberinya kesempatan. Aku pura-pura tak melihatnya. Aku akan menunduk dan pura-pura tidak tahu saja. Biarkan saja anakku akan menjadi pesakitan.  "Ah....apa iya aku setega tu?" "Tidaakkk..."

Mengapa tidak? Biarkan saja ia menjadi dirinya sendiri dan bertanggung jawab atas perbuatannya sendrii. Ia membawa buku-buku Naruto tanpa membayarnya dan ganjarannya ia harus ditangkap. Ia mencuri buku-buku itu. "Tidaakkkk....anak sekecil itu harus diseret ke ruang sumpek security dan ditanyai 10 pertanyaan. Oh tidak. Sebagai orang tua aku tak sebahlul itu membiarkan security menggelandang anakku."

"Biarkan saja. Ia harus belajar bertanggung jawab dan menepati janjinya."

"Tidak bisa. Ia tidak menciderai janji kok. Coba sebutkan?"

"Tapi kami sudah deal dengan budget pembelian buku. Jika lebih, itu tidak boleh."

"Anda ini pelit. Orang tua macam apa kau ini."

"Aku ingin konsisten dan itu aku jalani dengan berbagai risiko."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun