Mohon tunggu...
Djono Bedjo
Djono Bedjo Mohon Tunggu... -

AKU HANYALAH WAKTU, YANG TERANG KETIKA DATANG, DAN TAK PERNAH PERGI MESKI KAU TAK PEDULI. AKU HANYALAH WAKTU, YANG TETAP SETIA MENUNGGUMU, MESKI KAU BERSEKUTU DENGAN APAPUN. AKU HANYALAH WAKTU DAN KAU TAK AKAN BISA BERLARI DARIKU. (Djono Bedjo Subroto)

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Tragedi Brexit dan Jonan

12 Juli 2016   04:43 Diperbarui: 12 Juli 2016   04:58 87
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

 

Tragedi Brexit, Jonan dan Bonek

Alhamdulillah, pukul 02.41, Selasa (5/7) akhirnya saya berhasil melewati "Tragedi Brexit". Sebuah tragedi kemacetan panjang, berhari-hari, dengan jutaan liter BBM terbuang akibat salah konsep dan salah urus arus mudiik Lebaran 2016. 

Jutaan pemudik menjadi korban. Para pengendara didera kelelahan akut, stress di jalan dan ini yang penting: menghilangnya kesalehan sosial. Buang sampah di sepanjang jalan tol, saling serobot, tak tertib antrean. Pengemudi mudah marah dan main fisik. Dua anak saya juga mulai didera diare karena asupan makanan dan minuman yang tak terkontrol akibat dua malam menginap di jalan. 

Mengapa disebut Tragedi Brexit? Saya mencoba memahami mengapa kemacetan bisa sedemikian parah dan sangat membahayakan keselamatan jutaan keluarga pemudik. Jutaan nyawa dipertaruhkan oleh uji coba rekayasa lalu lintas yang gagal. 

Mari kita lihat satu per satu. 

Pertama, rekayasa dilakukan dengan menciptakan kanal lalu lintas bebas pembayaran di sejumlah pintu tol. Tujuannya agar kendaraan pemudik dapat menerjang jalanan tanpa kemacetan di dalam kota dan bisa sampai Brexit dengan cepat.
Apa yang terjadi ketika rekayasa ini dilakukan? Ratusan ribu kendaraan dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan sekitarnya datang seperti air bah dan menumpuk di Brexit. Petugas kepolisian yang bekerja sangat keras mengurai kemacetan justru menciptakan Bonek (bottle neck). Kemacetan bukan terurai tetapi makin menjadi-jadi. 

Kedua, akibat Bonek, rekayasa kedua dilakukan dengan memberlakukan sistem Contra Flow (Colow). Entah apa yang ada dalam benak para penentu kebijakan, sistem Colow diberlakukan tanpa "kajian akademik", tanpa sosialisasi, dan tanpa aturan (baca:urakan). Akibatnya Bonek terjadi di mana-mana di sepanjang jalur Pantura setelah keluar Brexit hingga Pemalang, Kota Tegal dan Kabupaten Tegal.
Mari kita buktikan di jalan. Sebagai awam dalam hal transportasi, saya membandingkan sistem Colow yang diterapkan di Brexit dengan jalan tol dalam kota, Semanggi. 

Sependek pengetahuan saya, Colow baru saja diperkenalkan di Jakarta dan itu pun dipraktikkan di jalan tol Semanggi. Satu jalur tol dari Semanggi ke Cawang digunakan secara berlawanan untuk mengurai kepadatan arus Cawang ke arah Semanggi. Colow dilakukan di jalan bebas hambatan bukan di jalan reguler dalam kota. 

Ini berbeda dengan Colow yang dipraktikkan di jalur Pantura yang notabene adalah jalur umum dalam kota, bukan jalan tol yang bebas hambatan. Jalan Pantura juga penuh tikungan, banyak aktivitas warga lalu lalang, banyak jalan memotong dan putar balik. 

Tentu ada "alasan rasional" mengapa Colow diperkenalkan di dalam jalan tol (selain untuk mengatasi persoalan lalu lintas) dan bukan di jalan reguler biasa. Ini yang saya sebut ada "kajian akademik ketika memberlakukan Colow." 

Di Semanggi, Colow disosialisasikan, diatur jam buka tutupnya dan dibuat aturan dengan memberi pembatas di sepanjang jalur sejak start hingga finish. 

Praktik di Pantura, Colow dilakukan seperti tanpa aturan. Tidak ada pemberitahuan di mana boleh start dan finish, tak ada rambu-rambu dan pembatas jalan di sepanjang jalan Colow. Akibatnya kendaraan baik bus, truk tangki, box maupun pribadi, atau sepeda motor bebas masuk dan bebas keluar jalur. Tak ada start dan finish. Bonek akhirnya terjadi di sepanjang jalur. Tidak ada pembatas jalan di sepanjang jalur Colow kecuali hanya di beberapa titik di Kota Tegal dan depan alun-alun Brebes (itu pun bukan dimaksudkan untuk Colow). 

Kendaraan dari Colow keluar jalur dan dari luar masuk ke Colow. Ini sangat Mengganggu aliran arus kendaraan. Akibatnya sudah pasti adalah terjadinya Bonek. Kemacetan pun tak terhindarkan. 

Saya mencoba memasuki jalur Colow sekitar pukul 22.55 di ruas Kabupaten Tegal. Saya masuk melalui sela pembatas jalan. Saya lihat di belakang berderet bus, di depan juga berderet bus. Saya masuk mengambil ruas paling kiri, satu jalur dan membiarkan jalur kedua untuk arus berlawanan.
Tiba-tiba "wuss!!" Sebuah bus masuk mendahului saya dari arah kanan diikuti sejumlah bus dan mobil pribadi. Sedetik kemudian "jederrr!!" Tanpa diketahui, dari arah berlawanan sebuah bus menghadang. 

Adu banteng nyaris terjadi: bus vs bus. Untungnya, besi-besi merayap itu bisa mengerem.
Lama sekali mengurainya. Apalagi tak ada polisi di jalan. Saya akhirnya bisa menghindar dan memasuki jalur arteri. Di sepanjang jalan yang padat, saya berulang kali menyaksikan adu banteng nyaris terjadi. Kendaraan sedan dari Colow melakukan manuver mendahului dari sebelah kanan dan menderu lalu "braakk!!" Hampir saja tabrakan. Suara-suara "braakk" "jedeerr" "praangg!!" sudah berada dalam kepala saya. Ngeri betul membayangkannya.

Saya katakan kondisi Colow ini urakan. Nyawa menjadi bahan pertaruhan rekayasa lalu lintas. Andai dua bus itu saling menghantam dan mayat bergelimpangan, siapa yang bertanggung jawab? 

Satu lagi, akibat kemacetan yang begitu parah, antrean ke SPBU menjadi luar biasa panjang. Satu jalur dikuasai para pengantre BBM ini. Otomatis kemcetan kian menjadi-jadi.

Jika Brexit (Britania Exit) menjadi alasan mundurnya Perdana Menteri Inggris, akankah Tragedi Brexit (Brebes Exit) akan menjadi alasan mundurnya Ignasius Jonan? Hanya Tuhan dan Jonan yang tahu. (habe arifin)

 

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun