Marapi, atau Gunung Marapi, adalah sebuah gunung berapi kompleks di Sumatera Barat, Indonesia. Gunung ini merupakan gunung berapi paling aktif di Sumatera dan namanya berarti "Gunung Api", yang selalu memunculkan api dipuncak gunung ketika gunung tersebut meletus. Berbeda dengan gunung-gunung didekatnya seperti Singgalang, dan Tandikat. Gunung-gunungi ini lebih aktif dan hampir setiap tahun meletus dan  memutahkan abu vulkanik dan kadang lahara panas.
Gunung Marapi mempunyai ketinggian 2.891 m dari permukaan laut, dan mempunyai lima kepundan atau kawah. Semuanya dinamakan sebagai Kaldera Bancah, kapundan Tuo yang hampir tertutup dan hanya terlihat lobang-lobang, kepundan Kabun Bungo, kapundan Bungsu, dan kepundan Verbeek atau kapundan Tangah dengan empat buah lubang keluaran gas dan abu vulkanik. Empat kepundan pertama saat ini tidak aktif, dan diduga berisi air. Namun sebelum ini kepundan tersebut pernah meletuskan abu vulkanik namun tidak terlalu sering. Sementara kepundan Verbeek masih aktif mengeluarkan material letusan secara rutin sepanjang tahun, dan setiap saat mengeluarkan api (lahar panas), dan abu vulkanik (letusan). Kondisinya kering dan kadang basah, dan selalu mengeluar asap dan uap air.
Gunung Marapi selama ini lebih pandang sebagai sumber bencana, walaupun abu vulknik yang dikelaurkan membuat subur lahan di sekitar gunung. Cuaca yang baik dan curah hujan cukup tinggi dengan hutan yang lebat menjaga sekeliling gunung tidak kekurangan air untuk pertanian. Lingkungan dan hutan terjaga baik membuat sekeliling gunung dihuni penduduk dan menjadi tempat tinggal dan Bertani.
Bencana yang terjadi selama ini adalah gunung meletus, gempa bumi, dan limpahan air dari kawah-kawah di puncak gunung yang menyebabkan air bah yang dikenal dengan nama khusus "Galodo" untuk penduduk setempat. Gunung meletus dan gempa bumi tidak mengakibatkan bahaya bagi penduduk sekitar, kecuali ketika pendaki gunung terperangkap di puncak gunung yang meletus ketika mereka berada di atas puncak gunung tersebut. Terakhir pada  3 Desember 2023 gunung tersebut meletus dan mengakibatkan 24 orang Pendaki gunung tewas dalam peristiwa ini.
Letusan gunung berapi sebenarnya tidak berbahaya. Banyak kasus orang-orang bisa mendekati kawah gunung berapi ketika terjadi letusan. Orang yang berada didekatnya bisa berada puluhan atau ratusan meter dibibir kawah atau kolom abu yang bergerak  ke udara. Hanya saja harus diwaspadai arah jatuh abu vulkanik agar supaya tidak berada di bawah jejatuhan abu vulkanik. Bagaimnapun abu vukanlk memiliki suhu tinggi mulai dari ratusan derajat sampia ribuan derajat Celsius.
Lahar panas atau batuan cair biasanya mengalir dengan lambat karena batu yang mencair mempunyai viskositas tinggi, sehingga orang bisa saja berdekatan dengan cairan lahar, dan mengambil sampel jika diperlukan. Hanya saja harus diwaspadai jika ada gerakan tiba-tiba atau material jatuh dari permukaan yang lebih tinggi dengan cepat sehingga tidak ketimpa oleh cairan panas, atau letusan eksplosiff yang biasanya selain mengeluarkan abu vulkanik juga membawa partikel atau bebatuan yang lebih besar yang bisa saja menimpa kepala siapapun yang berada di dekatnya.
Letusan gunung Marapi pada  3 Desember 2023 gunung  yang mengakibatkan 24 orang Pendaki gunung tewas dalam peristiwa ini. Sebenarnya pada saat tersebut letusan gunung ini tidak terlalu besar, kolom abu vulkanik hanya setinggi 300 m, dan meletus setiap 45 detik. Oleh karena  mereka sangat dekat dengan kawah, dan tidak cepat-cepat menyelamatkan diri mencari tempat perlindungan mereka meninggal dunia karena ketimpa reruntuhan abu vulkanik yang turun dari atas  udara ke bawah.
Bagaimanapun pada saat genung meletus, dan abu vulkanik membentuk kolom abu yang tinggi ke atas udara merupakan pemandangan yang indah dan menarik, membuat setiap orang terpana dan tidak segera meninggalkan tempat tersebut, dan segera melarikan diri, turun ke bawah gunung, dan mencari tempat-tempat aman untuk berlindung di bawah pohon-pohon yang berada di hutan lebat di bagian puncak gunung, atau mempelajari arah angin, dan ditempat-tempat ada celah perlindungan atau bangunan yang ada di atas gunung. Dibutuhkan pemandu, dan orang-orang berpengalaman, dan terlatih untuk tetap berada di atas gunung di atas gunung untuk memandu setiap orang yang berada di lokasi letusan, dan mengarahkan ketempat-tempat yang aman dari bahaya yang datang.
Bencana yang berbahaya bagi gunung Marapi selama ini adalah kawah-kawah yang berisi air. Sebenarnya kawah tersebut suatu bentuk kaldera. Kaldera adalah cekungan besar seperti kuali yang terbentuk tidak lama setelah pengosongan ruang magma akibat letusan gunung berapi. Letusan gunung berapi mengeluarkan magma (batu cair) dalam jumlah besar dalam waktu singkat dan dapat menyebabkan terbentuknya ruang kososng dengan cara mengurangi atau memindahkan massa yang menopang atapnya sendiri, dan batuan apapun yang barada di atasnya. Biasanya tanah dipinggir kawah kemudian runtuh ke dalam ruang magma yang kosong atau sebagaian kosong, meninggalkan cekungan besar di permukaan puncak gunung, biasanya berdiameter puluhan meter sampai puluhan kilometer). Bentuk ini digambarkan sebagai kawah, yang sebenarnya hanyalah lubang reruntuhan, karena terbentuk melalui penurunan permukaan tanah dan keruntuhan, bukan terbentuk melalui ledakan atau benturan.
Terbentuknya ruang kosong , kaldera, di atas gunung berapi karena selama letusan gunung berapi tergentuk gas-gas yang terperangkap di dalam magma. Â Gas-gas tersebut sebenarnya merupakan bagian kandungan magma itu sendiri yang larut di dalam magma yang jumlahnya sangat besar, bisa mencapai 7% dari keseluruhan berat magma. Ketika magma mencapai permukaan, dan terjadi penurunan tekanan, oleh sebab terdapat perbedaan tekanan di atmosfir dengan tekanan di dalam magma (perut gunung berapi) maka gas-gas bertekanan tinggi (oleh karena temperatur tinggi) akan memecah-mecah magma dalam bentuk butiran-butiran partikel halus dan membentuk abu vulkanik dan pecahan-pecahan batu yang keluar dari kawah gunung berapi. Bentuk penurunan tekanan atau pecahnya magma ini dikenal sebagai letusan gunung atau gunung meletus.
Gas-gas beserta abu vulkanik dan material lainnya keluar dari ruang magma dengan kecepatan tinggi, dan membentuk kolom abu, yang biasanya sampai ratusan meter dan bahkan sampai puluhan kilometer. Tingginya kolom abu tersebut sangat tergantung kepada tekanan dan temperature magma di dalam perut gunung. Ketika tekanan tinggi keseluruhan material abu dilempar ke udara, bukan tidak mungkin akhirnya dipuncak gunung akan membentuk ruang kosong atau kaldera, karena kekosongan material yang terbawa oleh letusan gunung berapi keluar kawah.
Ruang-ruang kosong atau kaldera di atas gunung biasanya mempunyai kedalaman beragam, bisa saja hanya puluhan meter, atau ratusan meter, dan kadang bisa mencapai  2 s/d 5 kilometer dan mungkin saja lebih dalam. Biasanya kaldera berisikan dari bebatuan beku dari sisa-sisa letusan, abu vulkanik, dan kadang diisi oleh air, selain oleh batu-batu reruntuhan cincin-cincin gunung berapi yang berada di sekitar kawah gunung. Air di dalam kawah bisa jadi diisi oleh air hujan atau sumber-sumber lain jika kaldera berada lebih rendah dari permukaan tanah lain.
Contoh terbentuknya kaldera dengan isi air adalah danau Toba dan danau Maninjau. Danau-danau tersebut sejatinya  merupakan kaldera gunung berapi yang meletus jutaaan tahun yang lalu berisi air dari sunga-sungai di sekitarnya. Sementara di atas gunung Marapi hal yang sama juga terjadi, terbentuk kaldera seperti hal tersebut, beberapa kawah nya merupakan kaldera yang berisikan oleh air dan lumpur-lumpur abu vulkanik. Sementara air yang terdapat di dalam kaldera gungun Marapi tersebut adalah kumpulan curah hujan yang selalu terjadi di atas gunung.
Oleh karena kandungan air di dalam kawah gunung berapi mengingat dalamnya sangat dalam untuk luas hanya 2000 meter persegi atau dengan diameter 50 meter lebih, dan kedalaman air sekitar 1 km, maka volume air yang tersimpan di atas gunung adalah 2 juta meter kubik (1.9625 m2). Kaldera di atas gunung Marapi terdapat lebih luas dar hal ini dengan kedalaman yang tidak diketahui.
Bisa dibayangkan jika permukaan magma di dalam gunung bergerak dan menekan air yang di atasnya ke permukaan kawah. Gunung berapi segera memutah air dalam jumlah yang banyak, dan akan mengikis habis cincin-cincin vulkanik ke sekitar gunung Marapi. Hal hasil tumpahan air yang sangat besar dari puncak gunung Marapi tersebut akan menjadi air bah (galodo) ke kaki gunung. Peristiwa seperti ini lah yang terjadi pada gunung Merapi. Air dari kaldera di atas gunung Marapi melimpah berbagai posisi ke lereng gungung Marapi. Dua kabupaten Agam dan Tanah Datar yang berada di Barat dan Timur gunung Marapi pada tanggal 4-5 April dan 11 Mei 2024 mendapat air bah limpahan gunung Marapi dalam jumlah besar. Air bah dimulai dengan suara dentuman dan gemuruh dan dalam hitungan menit air turun dalam jumlah yang sangat besar yang menghanyutkan pemukiman penduduk.
Air bah bisa dipastikan oleh pergerakan dasarnya magma gunung Marapi karena kandungan air di dalam kawah yang sangat besar karena  hujan turun deras pada saat itu menambah volume air di dalam kawah, dan peristiwa tersebu hanya terjadi 2 s/d 4 kali dalam 50 tahun terakhir, dan tidak terjadi setiap terjadinya hujan lebat dipuncak gunung, dan tidak terjadi karena pecahnya cicin kawah sehingga air yang terdapat di dalam kawah tumpah. Kejadian yang bisa diprediksi adalah adanya tekanan di dasar kawah yang mendorong volume air dalam jumlah besar kepermukaan dan meruntuhkan cincin kawah, dan membawa material longsoran dan air serta bebatuan, kayu gunung ke kaki gunung.
Aliran lahar dingin atau air bah yang turun ke bawah gunung Merapi selama ini dibiarkan terbentuk secara alami. Jurang-jurang (dikenal dengan nama sarasah) di sekitar lereng gunung menampung air, dan menjadi hulu sungai yang mengalir ke pemukiman penduduk dan area pertanian. Air yang terkandung di dalam sungai dibiarkan hanyut sampai kaki gunung dan masuk ke pemukiman. Selama ini tidak ada penanganan khusus mengenai hal ini. Seharusnya daerah aliran Sungai  (DAS) dikelola dengan baik karena terdapat potensi bahaya yang selalu terjadi berulang dan membahayakan jiwa dan harta penduduk di sekitar gunung.
Aliran Sungai di kaki gunung Marapi harus dibangun sedemikian rupa sehingga mampu menampung dan menerima curahan air bah dari atas gunung dengan kedalaman dan lebar yang cukup sebagai saluran aliran. Di samping itu diperlukan tempat pelimpahan air jika sungat tidak mampu menerima jumlah air yang sangat banyak. Sehingga ada dibeberapa tempat di pinggiri Sungai dibuat dataran yang lebih rendah dan menerima limpahan air bah untuk dialirkan ketempat-tempat tertentu atau ditampung ditempat tertentu.
Tempat-tempat limpahan air bisa saja berupa jalan raya, atau daerah pertanian jika tidak ada daerah kosong. Hal yang utama yang diperlukan adalah menghindari air bah menggerus atau mengalir ke daerah pemukiman yang mana terdapat perumahan penduduk dan air bah akan menghanyutkan seluruh bangunan pemukiman penduduk seperti yang telah terjadi selama ini. Jika air bah terjadi pada malam hari dan penduduk sedang beristirahat dan tidur dirumahnya tidak punya waktu untuk menyelamatkan diri mereka.
oOo
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H