Membangun usaha rumahan itu gampang-gampang susah. Penuh perjuangan jatuh bangun, meski banyak jatuhnya ketimbang bangunnya.Â
Ya biasalah, usaha rumahan. Modal pas-pasan, eh melayani piutang (baca: barang dagangan diutangi tonggo).Â
Kalau gak gitu, usaha rumahan gak jalan. Karena ya gitu, gak punya kaki. Eh bukan ya, gak punya pasar, para tetangga malah beralih ke lapak lain.
Jadi itulah mengapa usaha rumahan itu kayak lampu disko, kelap-kelip. Terang redup. Wajarlah, uang yang dikelola kadang gak balik, malah buntung. Akhirnya, usaha rumahan hanya bertahan seumur jagung atau lebih singkat, seperti seumur rumput di sawah, tiap hari dibabat.
Nah, cukup sulit untuk membangun usaha rumahan agar terus bertahan, lebih-lebih mencapai kejayaan. Butuh waktu panjang dan biaya yang besar.Â
Maka dari itu, saya bakal memberikan sejumput saran guna membangun sebuah usaha rumahan yang anti fitnah, anti maling, dan anti bangkrut.
Langkah pertama, kita awali dengan merencanakan usaha rumahan apa yang bakal kita ciptakan dan hadirkan ke tengah-tengah lingkungan masyarakat, pikirkan ini dengan sangat matang
Pada tahap awal, kita bisa mencari rekan kerja (para tetangga) yang sama-sama pingin bangun usaha rumahan tapi modalnya terbatas dan hanya sebatas angan belaka. Jalin relasi bisnis, kerennya gitu.
Setelah dapat kawan, misal dalam satu RW ada sekitar 12 orang yang bakal bergabung dan berniat merintis usaha bersama.Â
Tibalah pada waktu merencanakan jenis usaha apa yang akan ditekuni. Saat proses ini, jangan asal njeplak saja, tapi dipikirkan secara detail melalui analisis SWOT (kekuatan, peluang, ancaman, dan tantangan).