[caption id="" align="aligncenter" width="507" caption="Transformasi Nerazzuri di Era Mancini"][/caption]
Bagi penikmat langgam permainan Inter Milan, aksi para pemainnya pada musim ini boleh dibilang mengecewakan, untuk tidak mengatakan buruk. Peraih gelar Serie A lima kali berurutan (2005 - 2009) ini tidak selaiknya nangkring di posisi 9 klasemen sementara: posisi medioker hasil dari 6 menang, 7 seri dan 5 kalah dari 18 laga.
Setidaknya, penggondol tiga gelar Liga Champions (1963, 1964, 2009) ini bisa bersaing dengan Juventus dan Roma yang kini tengah bersaing ketat di posisi satu dan dua klasemen.
Aneka Persoalan
Boleh jadi, peralihan kepemilikan klub menjadi penyebabnya. Durasi kepemilikan Moratti yang merentang sejak 1995 hingga 2013 tetiba beralih ke seorang pengusaha asal Indonesia, Eric Thohir. Meski demikian, peralihan kekuasaan ini tidak serta-merta menjadi sumber kemunduran Inter. Buktinya, kehadiran Thohir sedikit-banyak memperbaiki kondisi keuangan klub.
Pemain baru, muda maupun tua serta bertalenta, didatangkan. Arsitek permainan diganti, Stramaccioni ke Mazzari lalu kini Mancini.
Era Stramaccioni
Bisa jadi faktor pelatih. Faktor ini barangkali menjadi penyebab kegigihan permainan Inter yang kian hari kian lusuh. Stramaccioni mengusung permainan yang bertenaga dengan mengutamakan para pemain muda. Imbasnya, tidak ada pemain berpengalaman yang mengelola egoisme pemuda-pemuda klub ini.
Hasilnya, dari 47 laga Serie A yang dia pimpin, 18 kekalahan diderita Nerazzuri. Stramaccioni hanya membukukan 21 kemenangan bagi Inter. Kendati begitu, Strama, nama panggilannya, dinilai berhasil menambah pengalaman para pemain muda Inter.
Rezim Mazzari
Bagaimana dengan Mazzari? Pelatih ini dikenal berhasil menangani Napoli. Keberhasilan ini yang kemudian menjadi modalnya melatih klub yang bermarkas di Giuseppe Meazza itu. Gaya permainan yang diusung cenderung menguasai permainan lewat ball possession. Bagian tengah menjadi andalannya. Hingga formasi pertahanan pun menjadi “korbannya”.