Mohon tunggu...
Abdullah Muzi Marpaung
Abdullah Muzi Marpaung Mohon Tunggu... Dosen - Seorang pejalan kaki

Tak rutin, tapi terus...

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Tentang Dunia Penelitian yang Mungkin Tak Mudah Dipahami

16 Februari 2021   06:22 Diperbarui: 16 Februari 2021   06:27 293
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Katakanlah Anda seorang peneliti, entah dari perguruan tinggi, lembaga riset atau yang lain. Anda dan tim telah menggunakan waktu yang cukup lama, berbilang bulan bahkan mungkin lebih dari setahun, untuk melakukan riset yang sangat baik. Berkualitas tinggi. Anda dan tim telah menghabiskan biaya yang lumayan besar. Terlebih bila penelitian Anda tentang Ilmu Alam (kimia, fisika, biologi, pangan, kesehatan, dan lain-lain). 

Biaya untuk membeli reagen saja sudah tinggi. Belum lagi biaya untuk instrumen analisis. Katakanlah Anda mendapatkan dana untuk penelitian ini, setelah sebelumnya proposal Anda disetujui. Biasanya oleh lembaga pemerintah. Bisa juga dari sumber-sumber swasta. Tak soal. Intinya, sejumlah uang besar keluar.

Anda dan tim kemudian menuliskan hasil penelitian tersebut ke dalam suatu manuskrip ilmiah yang nantinya akan dikirimkan ke suatu jurnal. Proses ini juga makan waktu. 

Anda perlu membaca sejumlah referensi yang relevan dengan penelitian Anda. Tak sedikit jumlahnya dan sebagian besar haruslah referensi yang terbaru. Biasanya sepuluh atau lima tahun terakhir. Tergantung aturan dari jurnal tujuan. 

Untuk mendapatkan referensi itu tak jarang perlu biaya. Artikel-artikel ilmiah yang dijadikan referensi itu perlu dibeli, walau sekarang ada banyak jurnal open-access yang membebaskan siapapun untuk mengunduhnya. Kecenderungannya, semakin banyak jurnal-jurnal mapan yang beralih ke model open-access ini.

Kalau Anda mengambil referensi artikel dari jurnal tradisional, maka Anda perlu cermat sekali membaca abstrak artikel tersebut yang memang tersedia untuk dibaca oleh siapa saja. Jangan sampai setelah Anda beli artikel lengkapnya, isinya tak relevan dengan penelitian Anda. 

Tetapi, biasanya Anda tidak membeli sendiri artikel-artikel ini. Biasanya perguruan tinggi atau lembaga riset tempat Anda bekerja berlangganan sejumlah jurnal ternama di dunia. Biayanya, tak kecil juga.

Manuskrip selesai. Anda dan tim lalu mengirimkannya ke jurnal target. Tentu saja jurnal bereputasi, terindeks tinggi oleh lembaga pengindeks bereputasi. Proses mengirim manuskrip juga tidak praktis-praktis amat. 

Kadang-kadang Anda perlu menyertakan manuskrip dengan illustrated abstract (abstrak dalam bentuk gambar), highlights (pokok-pokok penting dari hasil penelitian), dan cover letter to Editor in Chief (surat pengantar), dan beberapa pernyataan lain.

Tim editor dari jurnal akan memeriksa manuskrip tersebut. Anda perlu melatih kesabaran di sini. Karena tak jarang manuskrip Anda dikembalikan dengan cepat karena alasan macam-macam. 

Sebagian mungkin karena kesalahan Anda, karena tak cermat mengikuti format jurnal dan lain-lain kesalahan. Tapi kadang-kadang editor mengembalikan manuskrip Anda karena alasan mereka terlalu banyak menerima manuskrip sehingga kuatir tak dapat memproses manuskrip Anda dengan segera.

Entah benar begitu entah itu kalimat halus untuk mengatakan bahwa artikel Anda tak cukup layak. Jika editor menilainya layak, maka manuskrip dikirimkan kepada beberapa reviewer yang dinilai kompeten pada bidang penelitian yang Anda laporkan pada manuskrip. Proses ini juga biasanya tak sebentar. Proses bolak-balik antara Reviewer-Author bisa berlangsung panjang. 

Pada tahap ini pun Anda perlu berlipat-lipat melatih kesabaran. Banyak reviewer yang baik, ada juga yang 'menyebalkan'. Tetapi berbaik sangka saja, bahwa proses ini benar-benar agar artikel Anda nanti semakin berkualitas. 

Ada kalanya reviewer menolak manuskrip Anda dengan segera, ada kalanya juga setelah proses bolak-balik satu atau beberapa kali. Walau perih, jangan dibawa ke hati.

Berhasil. Manuskrip Anda diterima. Accepted. Perasaan Anda melambung tinggi hingga ke awan. Atau bahkan Anda seperti dapat memetik bintang. Lalu tiba pada bagian akhir. Anda tahu dari awal bahwa Jurnal tujuan Anda adalah jurnal tradisional yang sudah beralih ke open-access journal. 

Artinya, Anda harus membayar publication fee. Sering tidak murah, saudaraku. Apalagi jurnal bereputasi tinggi. Ada yang 2500 USD, 3000 USD, bahkan lebih. Salah satu jurnal impian saya -- saya belum pernah berhasil menembus jurnal ini -- mengenakan publication fee 3300 USD.

Ya, tentu saja Anda tidak perlu membayar sendiri publication fee ini. Anda bisa mendapatkan dana dari bermacam-macam sumber. Bahkan mungkin memang sudah Anda sertakan pos pengeluaran ini saat dahulu mengajukan proposal penelitian.

Tapi, ini yang menjadi pokoknya: Anda sudah melewati suatu perjalanan panjang yang makan banyak biaya, lalu pada ujungnya harus membayar tinggi juga agar hasil penelitian Anda dapat dibaca orang. Logika yang aneh?

Mungkin tak perlu dipersoalkan. Begitulah aturan mainnya. Setidak-tidaknya hingga saat ini. Bisa jadi aturan main berubah nanti. Yang jelas, dengan publikasi itu Anda mendapatkan kredit yang penting untuk kenaikan pangkat. 

Mungkin pada akhirnya Anda mendapatkan keuntungan finansial. Lembaga pemberi dana juga ujung-ujungnya mendapatkan manfaat yang setimpal. Entahlah. Tapi, paling tidak, Anda mendapatkan reputasi. Reputasi Anda meningkat.

Hanya, begini. Anda juga perlu sabar dengan reputasi ini. Ya, mungkin Anda punya reputasi di dunia ilmiah. Akan tetapi, di dunia orang kebanyakan bisa lain cerita. 

Anda perlu belajar untuk berbesar hati ketika masyarakat lebih percaya ucapan selebram atau youtuber ketimbang ucapan Anda yang sesungguhnya ahli di bidang itu. Logika masyarakat yang aneh? Mungkin tak perlu dipersoalkan. Lapang dada saja. Hidup ini hanya sebentar.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun