Mohon tunggu...
Band
Band Mohon Tunggu... Supir - Let There Be Love

(PPTBG) Pensiunan Penyanyi The Bee Gees

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Kartu Natal

25 Desember 2019   13:10 Diperbarui: 25 Desember 2019   13:20 26
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar oleh S. Hermann & F. Richter dari Pixabay

Sudah sejak tengah bulan Desember ini, nenek aku uring uringan. Terkadang nyinyir tak begitu jelas, berseling pula terkadang menjadi pendiam yang kaku. 

Sebenarnya aku, cucunya, dengan nenek dikenal memiliki ikatan yang erat, dibanding dengan cucunya lain.  Tak cuma sayang, namun aku merasakan kesamaan dalam diriku dan nenek. Kalo hati nenek sedang sukak, kalbuku pun turut hepi, begitu bila nenek kusut, akupun illfeel. 

Ya udah, kembali ke rasa nenek di akhir tahun ini, sama serupa baperku mengikuti hari hari nenek. "Mestilah ada sesuatu yang merisaukannya". Aku telah mengenali sangat gesturenya. Namun entah deh, telah memakan dua hari ini beliau tak pula terbuka, tak sebagaimana biasanya, nenek yang open minded. Nenek menjadi absolut, tidak moderat seperti naturenya. Tapi ku tak menanggapi berlebih, kerna ku tau. Nenek? Ah! That's me!

Hingga di satu sore yang mendung, nenek memanggilku dari kamar tidurnya. "Sini Karen, nenek minta tulung" katanya lembut lewat pintu kamar yang terbuka. 

Aku yang bagai cucu siaga, menyergap masuk menyambut nenek yang sedang bersimpuh di ranjangnya. Tertampak beberapa kartu natal lama berserak di sebelahnya,satu dua kartu yang tampak lawas masih tergenggam di jemari kurus tuanya. "Hmm.. ada apa nenek sayang" kucoba untuk mengusik agar senyum bibirnya tersungging, namun kelihatan tak berhasil. Kutatap beberapa kartu natal yang kelihatannya entah berantah tahun berapa, yang memang sudah menjadi barang ganjil di generasi kelipatan seribu tahun ini alias milenial.

"Kamu tolong belikan nenek kertu natal ya nduk.." hampir berbisik nenek berkata tanpa memandang wajahku.

"Kartu natal?" aku gagap.

"Iya!" balasnya ketus.

"Nek, sekarang udah enggak jamannya lagi dong, kan ada internet. Buat siapa sih?"

"Ndak pake cerewet. Pokoknya belikan!"

"Oke oke. Asyiaap!" jawabku tanpa bantah, kerna ku tau kalo sudah begini bisa beda urusan nanti. Kucoba menelan aja, bahwa kehidupan digital sudah menelan komunikasi kertas, buat generasi nenek belum berlaku, bisa jadi tak diketahuinya  sekarang sudah zaman what's up?, fishbook, instageram dan segala turunan medsos digitalnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun