Mohon tunggu...
Bambang Trim
Bambang Trim Mohon Tunggu... Penulis - Pendiri Penulis Pro Indonesia

Pendiri Institut Penulis Pro Indonesia | Perintis sertifikasi penulis dan editor di Indonesia | Penyuka kopi dan seorang editor kopi.

Selanjutnya

Tutup

Money Pilihan

Jalan (Penulis) Pengusaha

30 Januari 2014   11:08 Diperbarui: 24 Juni 2015   02:19 281
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Tahun 2012 saya sempat membantu editing buku 9 Jalan Pengusaha yang ditulis Adi Putera Widjaja--seorang pembicara publik dan trainer pengembangan diri. Buku tersebut kemudian diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Buku itu memang bagian dari salah satu usaha saya sebagai writerpreneur alias penulis pengusaha. Tentulah selalu ada pengalaman berharga setiap saya membantu seseorang atau lembaga untuk menulis buku. Ada banyak pengalaman saya berinteraksi dengan tokoh dalam kaitan penulisan-penerbitan, seperti Aa Gym, Yusuf Mansur, Julianto (High Desert), dr. Tauhid Nur Azhar, dan juga lembaga pendidikan maupun bisnis, seperti LIPI Press, P2M2 UT, Binus Business School, PT Badak NGL, PTPN XII, PT Takaful Indonesia, Ikapi, serta KPK. Saya memang menemukan renjana 'passion' di dunia penulisan-penerbitan sejak kuliah di Prodi D3 Editing Unpad hingga berlanjut ke S1 Sastra Indonesia Unpad. Sejak tahun 2000 pula saya mendapatkan pencerahan tentang writerpreneurship dari dua buku, yaitu Is There a Book Inside You karya Dan Poynter dan How to Start and Run a Writing and Editing Business karya Herman Holtz (diterjemahkan penerbit Grasindo). Meskipun dunia usaha penulisan sudah saya geluti sejak 1994. Ternyata dunia kepenulisan sejatinya tidak terbatas pada menerbitkan buku di penerbit atau menerbitkan karya tulis pendek di media massa, di luar itu terdapat relung-relung penulisan sebagai bisnis. Analoginya sederhana, tidak ada satu bidang pun di dunia ini yang lepas dari tulis-menulis. Alhasil, memang terdapat dua tipe penulis, yaitu penulis konvensional dan penulis entrepreneur atau penulis pengusaha. Penulis pengusaha lebih cenderung mengandalkan keterampilannya untuk menghasilkan uang tanpa terjebak pada impian menjadi penulis selebritas seperti halnya novelis. Mereka bekerja untuk individu sebagai ghost writer, co writer, atau publicist atau juga bekerja untuk organisasi.

139105303766291535
139105303766291535

Pengalaman lebih dari delapan belas tahun bergelut dalam kewirausahaan penulisan inilah yang membuat saya akhirnya menulis buku tentang writerpreneurship. Saya mendefinisikan secara sederhana bahwa writerpreneur adalah para penulis yang dapat mengubah satu rim kertas kosong seharga Rp30.000,00 menjadi kertas bertulisan seharga Rp30.000.000,00. Jadi, ada harga Rp60.000,00 untuk per halaman naskah (A4 sekitar 300 kata).

Dalam era digital kini, malah tentu modal Rp30.000,00 buat beli kertas itu tak ada lagi, yang ada adalah kreativitas melakukan promosi dan penetrasi di internet. Modal utama para penulis penguasaha ini adalah ide, ide, dan ide. Keberhasilan para penulis pengusaha terletak pada faktor pemasaran, pemasaran, dan pemasaran.

Angka Rp60.000,00 per halaman itu mungkin yang paling kecil. Angka tertinggi bisa mencapai di atas ratusan ribu rupiah per halaman atau satu buku seharga mobil baru kelas menengah. Bayangkan jika produktivitas Anda menulis adalah 16 halaman per hari (hitungan 8 jam kerja dan 2 halaman per jam), penghasilan Anda per hari adalah 60.000 x 16 = Rp860.000,00. Itu adalah hitungan minimal.

Jadi, mengapa tidak hal itu saya bongkar saja lewat buku sederhana ini dengan ketebalan 136 halaman ukuran A5 terbitan TrimKom Publishing House. Rumus standar informasi saya gunakan sebagai pembagi bab yaitu 5W + 1H. Jadilah Anda saya bawa untuk menjawab pertanyaan Apa, Siapa, Di Mana, Kapan, Mengapa, dan Bagaimana tentang writerpreneur.

1391053776986079665
1391053776986079665

Pertanyaan mengapa salah satunya saya jawab dengan fenomena Kompasiana ini. Blog jurnalisme warga ini adalah salah satu media pelatihan para writerpreneur plus juga media berbagi dan membangun jejaring kepenulisan. Karena itu, Kompasiana menjadi salah satu pendukung writerpreneurship dalam era digital kini dan berkembangnya media sosial.

Penulis pengusaha memang berbeda dengan penulis kebanyakan. Mereka berani meninggalkan kemapanan sebagai "karyawan" dan terjun bebas menggantungkan hidupnya dari penulisan. Pada kenyataannya mereka yang menemukan jalan bisa berlayar atau berselancar di laut biru bisnis penulisan.

Hampir tidak ada persaingan berarti, bahkan malah "samudra biru" ini menawarkan begitu banyak pasar ceruk (niche) yang menggoda hati.  Ada juga pasar yang agak ramai seperti penulisan biografi/autobiografi para politikus, selebritas, atau pengusaha--apalagi dalam musim kampanye kini.

Tiga kompetensi inti menjadi writerpreneur adalah kemampuan menulis (sudah pasti), kemampuan editing (penguat), dan kemampuan berbicara (public speaking sebagai pendobrak). Yang tertarik dan setuju, beri jempol :). Salam writerpreneur!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun