Mohon tunggu...
Bambang Syairudin
Bambang Syairudin Mohon Tunggu... Dosen - Bams sedang berikhtiar untuk menayangkan SATU per SATU PUISI dari SEMBILAN rincian PUISI tentang DAMPAK. Semoga bermanfaat. 🙏🙏

========================================== Bambang Syairudin (Bams), Dosen ITS ========================================== Kilas Balik 2023, Alhamdulillah PERINGKAT #1 dari ±4,7 Juta Akun Kompasiana ========================================== Puji Tuhan atas IDE yang Engkau alirkan DERAS ==========================================

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Sekelebat Cerpen: Gembira Setelah Berkabung

23 Juni 2024   01:00 Diperbarui: 23 Juni 2024   01:22 82
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Sekelebat Cerpen | Gembira Setelah Berkabung

"Terima kasih banyak Mbah Soleh"

"Terima kasih sama-sama Pak Dul"

Pak Dul turun dari mobil dan Mbah Soleh melanjutkan perjalanan ke Pasuruan.

Delapan hari Pak Dul pergi bersama Mbah Soleh, delapan hari pula warung kopinya tutup. Tetangga kanan-kirinya dan terutama sanak-keluarganya geger mencari-cari Pak Dul. Untung sebelum lapor ke Polisi, ada yang sempat melihat kepergian Pak Dul dengan Mbah Soleh. Coba seandainya tak ada yang tahu tentang kepergian Pak Dul dengan Mbah Soleh, pasti berita yang tersebar menjadi bermacam-macam versinya, lebih-lebih kalau dikaitkan dengan letak warung kopi Pak Dul di samping kuburan.

"Pak, pak!...kalau pergi lama mbokyao (mestinya) bilang dulu biar tidak pada kuatir seperti ini?" kata anak sulungnya sambil sedikit menahan mangkel (kesal).

"Lha bapak tidak tahu kalau akan lama perginya kok Nduk" Pak Dul mencoba memberikan alasan.

"Mosok tidak tahu pak, pak!"

"Ya siapa yang tahu Nduk, kalau orang yang dikunjungi ternyata pas hari meninggalnya"

"Siapa sih Pak orang yang meninggal tersebut?" tanya anak sulung Pak Dul dengan raut muka yang sudah tidak menunjukkan kekesalan hati lagi.

"Sahabat karibnya Mbah Soleh, Nduk"

"Oh ya pantes lama ya pak...tapi lain kali bilang ya pak kalau mau pergi-pergi?"

"Ya Nduk" jawab Pak Dul singkat karena ada sesuatu yang harus dia kerjakan.

Sesuatu yang harus dia kerjakan itu adalah uang ganti rugi 4 juta rupiah dari Mbah Soleh. Dia ingin menghitungnya lagi dan lagi. Hatinya sangat gembira setelah berkabung. Gembira karena ada hitung-hitungannya mulai dari  menemani Mbah Soleh berangkat ke Bukit Pegat hingga pulangnya lagi sampai di Surabaya, totalnya delapan hari dengan per harinya dihargai lima ratus ribu rupiah. Angka yang cukup besar bagi Pak Dul, karena kalau jualan kopi, untung bersihnya tidak bakalan sampai sebesar itu. Kegiatan lain yang juga ingin dilakukan pak Dul setelah nanti puas menghitung uangnya tersebut  adalah memenuhi keinginan yang sudah lama diidam-idamkannya. Keinginan apakah itu? Pak Dul tidak berani mengungkapkan keinginan tersebut dengan lisannya maupun dengan hatinya, tapi dia ungkapkan dengan cara terus-menerus tersenyum sendiri di dalam warung kopinya yang sepi.

(gembira setelah berkabung, 2024)

Sekelebat cerpen ini dirangkai dengan cara singkat dan sangat sederhana untuk menceritakan tentang Gembira Setelah Berkabung. Semoga bermanfaat.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun