Orangtua mana yang tidak senang melihat anaknya aktif dan ceria. Tetapi jika anak-anak aktifnya melewati batas wajar tentu akan membuat orangtua menjadi khawatir dan kesulitan untuk menanganinya.
Melihat keaktifan yang melebihi itu, tidak sedikit ibu pasti memarahi anak, membentak, mengancam, atau melakukan hukuman fisik misalnyanya mencubit agar anak menjad diam dan tenang.
Psikolog menegaskan bahwa aksi mengancam ataupun menjatuhi hukuman kepada anak saat berlaku buruk adalah sebuah ajaran yang salah.
Ancaman pun bukan bentuk punishment yang tepat. Karena akan menimbulakn efek trauma dan masalah emosional baru pada anak. Mengancam dan menakut-nakuti atas nama orang lain. Seperti "nanti mama bawa ke pak polisi, loh!" atau "mama bawa ke om yang galak yaa!" itu semua akan berakibat buruk pada si kecil dan justru menjadi memiliki trauma pada polisi atau masalah emosinal pada sosok yang dicontohkan.
melansir dari CNNIndonesia, Roslina Verauli seorang psikolog menilai bahwa alih-alih anak berubah, hukuman atau ancaman yang dijatuhi kepada anak yang berlaku salah dinilai dapat membuat pertumbuhan anak tidak berkembang. Terlebih jika hukuman yang digunakan adalah cara kekerasan.
Jika tindakan fisik ini terus terjadi maka akan direkam oleh memori anak dalam jangka panjang anak. Kebiasaan memukul akan membuat anak menjadi lebih agresif. Karena, anak cepat akan meniru orang yang berada di dekatnya atau sering berinteraksi dengannya
Pastinya hukumanya yang diteriama oleh si anak akan berpengaruh pada prilaku anak terutama saat dewasa nanti. Kemungkinan besar si anak akan mewariskan kebiasaan buruk itu pada anaknya.
Ditegaskan kepada orangtua bahwa tidak selalu memberikan hukuman pada anaknya bila mereka berprilaku buruk. Melaikan anak dapat diberikan sebuah tantangan untuk melakukan sesuatu kebaikan.
Vera, reward and punishment mengatakan selama ini ada untuk memakai apakan perilaku itu pantas untuk diualangi lagi atau tidak. Â Biar anak-anak tidak mengulanginya lagi, maka orang tua haruslah berfikir kreatif tentang apa yang bikin prilaku yang tidak akan di ulanginya lagi.
Vera mengatakan hal tersebut bukan tanpa alasan menurutnya meningkatkan prilaku anak dengan hal yang positif akan mampu mengurangi hal yang negatif pada si anak.
Mulailah ajak anak untuk mengembangkan dirinya kepada hal yang positif. Diskusi keraap dilakukan saat dua atau lebih individu ingin menimbulkan rasa pemahaman yang sama atas suatu hal.
Pada dasarnya diskusi dilakukan saat dua atau lebih dari satu orang. Karena untuk mengatasi kondisi tersebut. Vera sendiri menilai bahwa anak benar-benar membutuhkan diskusi. Dan orangtua juga perlu mengetahui bagaimana cara untuk memulai awal berdikusi.
Psikolog Roslina Verauli, mengtakan "Orang tua biasanya bermasalah dengan anak ketika anak mulai berkembang untuk menjadi dirinya sendiri. Biasanya, anak yang mulai bisa ngomong, mulai bisa mengurus dirinya sendiri berarti mulai banyak keinginan. Itu terjadi di umur dua-tiga tahun."
Perlu diingat saat berdiskusi harus mengikuti usia pada di anak. Jika anak masih kecil maka bentuk posisi diskusi dengan cara santai dan bermain, itu akan membuatnya bisa saling terbuka. Bukan dengan cara serius, si anak akan merasa bingung dan kesal.
Untuk jenjang sekolah dasar (SD) orangtua dapat melakukannya diskusi dengan berlaku sebagi teman pada anaknya.
Perlu dicatat, Vera mengatakan orangtua harus membiarkan anaknya bercerita. Setelah itu mulailah bertanya lewat ungkapan atas ekspresi pada si anak agar memperdalam dirinya. Orangtua bisa bertukar cerita pengalaman saat masih duduk di bangku sekolah.
Jadi mulailah membimbing anak dengan cara kasih sayang dan jangan membiarkan si anak bertingkah laku yang negatif.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI