Berpikir, menjerat bayang-bayang dalam kesunyian yang mendalam.
kamu juga jauh, ah bahkan lebih jauh dari siapa pun.
Berpikir, melepaskan burung, memudarkan bayangan,
mengubur lampu.
Menara lonceng kabut, betapa jauhnya, di atas sana!
Tenggelam dalam keluh kesah, menggilas harapan kelam,
pendiam miller,
malam datang menerjang dirimu, jauh dari kota.
Kehadiranmu asing, bagiku seperti sesuatu yang asing.
Kupikir, berjalanlah jauh, hidupku dihadapanmu.
Hidupku sebelum orang lain, hidupku yang keras.
Jeritan di depan laut, di antara bebatuan,
berlari bebas, menggila, di kabut laut.
Kemarahan yang menyedihkan, jeritan, kesepian di laut.
Tak terhentikan, ganas, membentang hingga ke langit.
Dan kamu, wanita, apa yang dilakukan di sana, baris apa, batang
kipas besar apa itu? Kamu berada jauh seperti sekarang.
Kebakaran di hutan! Terbakar dalam tanpa langit biru.
Bakar, bakar, nyalakan, kilaukan cahaya di pepohonan.
Itu runtuh, berderak. Api. Api.
Dan jiwaku menari, terbakar oleh pusaran api.
Siapa yang menelepon? Keheningan apa yang dipenuhi gema?
Waktunya untuk bernostalgia, waktu untuk bergembira, waktu untuk kesepian,
waktuku di antara semuanya!
Biduk yang dilalui angin bernyanyi.
Begitu banyak gairah menangis yang terikat pada tubuhku.
Mengguncang semua akar,
menyerang semua gelombang!
Jiwaku bergulung, bahagia, sedih, tak ada habisnya.
Berpikir, mengubur pelita dalam kesepian yang mendalam.
Siapa kamu, siapa kamu?,Hanya rindu tak bertepi
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI