Bung Musni Umar, saya sungguh senang melihat photo profil Bung di Kompasiana yang saya persepsikan sebagai sosiolog yang ‘sering diwawancara media’. Hebat. Saya sungguh salut dan ikut bangga.
Namun kepedulian atas kampung halaman Bung melalui tulisan “Tenaga Kerja China Serbu Konawe, Rakyat Protes”, yang kemudian Bung simpulkan ‘daerah tidak mendapat apa-apa’ justru mengundang pertanyaan buat saya; Opini Bung sebagai ‘intelektual’ bergelar Ph.D in Socioloy lulusan National University of Malaysia atas dasar kepedulian yang sungguh-sungguh atau pesanan para ‘Gajah Rakus’ yang ingin menguasai kawasan industri di Konawe dengan cara paksa dan jahat?
Ada beberapa pertanyaan, yang kalau mau, Bung bisa menjawab:
1. Pernahkah Bung Musni Umar datang ke kawasan Kecamatan Morosi, Kecamatan Bondoala atau Kecamatan Kapoiala sebelum ‘Pabrik Feronikel Terbesar’ akan dibangun? Kalau belum, datanglah, Bung. Sekarang wajahnya sudah sangat jauh berbeda. Dari hutan tandus dengan rawa-rawa tak terurus, sekarang sudah berdiri dasar-dasar pembangunan kawasan industri untuk menjawab visi pemerintah dalam memakmurkan negara dengan membangun belasan kawasan industri.
2. Bung, pernahkah Anda bertemu dengan ‘investor’ yang sudah terlanjur Anda persepsikan tidak peduli dengan masyarakat setempat, masyarakat Sulawesi Tenggara, bahkan rakyat Indonesia? Saran saya temuilah. Ehm, siapa tahu, persepsi Anda akan berubah. Siapa tahu pula Bung akan memiliki perspektif baru dalam menyelesaikan masalah investor yang sudah berdiri di depan pintu kampung halaman Bung. Tanyakan kepada investor mengapa masalah perijinan berlarut-larut hingga kini.
Padahal, awalnya semua menteri, bahkan menteri koordinator yang membidangi, sudah membuat rekomendasi untuk segera dibangun dengan segala rayuan agar investor segera menanamkan modalnya, namun dimentahkan oleh Pak Gubernur karena satu dan lain hal. Untuk ini, cobalah baca catatan di BKPM dan Departemen Perindustrian yang sangat lengkap datanya.
3. Bung, sebagai sosiolog, tentu Bung sangat paham budaya dan etos kerja ‘orang China’ dan ‘orang Konawe’. Tentu saja, investor yang menggunakan uangnya, entah uangnya sendiri atau menggandeng lembaga keuangan negaranya, sangat berhitung soal ketepatan waktu untuk merealisasikan proyeknya.
Dan selama mereka tidak melanggar hukum negara kita, mengapa Bung mengangkat protes masyarakat setempat hanya dari dimensi kesempatan kerja? Cobalah datangi dan lihat para pekerja China itu bekerja, Bung. Kita memang tak ingin seperti apa yang dirasakan orang Tibet atas pengalamannya saat pembangunan negaranya ‘dibantu’ China. Tapi dimensi konspirasi ‘Gajah Rakus’ yang mengkondisikan kekacauan untuk kemudian proyek tersebut dijadikan bahan kunyahannya yang gurih nan lezat, seyogyanya Bung juga sudi untuk mencermatinya.
4. Bung, di paragraph Jenderal TNI Purn. Moeldoko, yang konon dari informan lapangan yang belum terkonfirmasi, mbok, ya, Bung jangan malaslah mencari informasi dari sumber-sumber lainnya. Seharusnya konfirmasikan dan temuilah Moeldoko lebih dahulu sebagai sesama penyandang gelar ‘Strata 3’. Bukankah sesama ‘Yang Maha Terpelajar’ memiliki etika untuk saling menghormati integritas keilmuan satu sama lainnya? Tunjukkan akte notaris bahwa ia sudah diangkat jadi komisaris utama.
Bawa pula bukti kawasan industri Konawe yang awalnya rawan protes kemudian menjadi ‘kawasan militer’ yang steril dari pihak-pihak ‘yang tidak berkepentingan dilarang masuk’ karena peran Moeldoko. Oh, ya, siapa tahu cara berpikir Bung lebih ‘istimewa’ setelah bertemu dan tahu motif kunjungannya ke Konawe paska pensiun? Jangan-jangan Moeldoko sangat konsekwen dengan statement-nya saat menjabat Panglima TNI; “Jangan takut investasi di Indonesia, Indonesia aman,” serta hanya ingin memastikan bahwa Program Nawa Cita yang diusung Presiden Joko Widodo tetap bisa berjalan dengan baik.
Untuk hal ini, sekali lagi, sebagai penyandang gelar “Yang Maha Terpelajar”, seyogyanya Bung kalau tidak mampu membawa bukti akurat segera datang dan meminta maaf kepada Moeldoko secara terbuka dan ksatria. Bukankah ‘Ph.D.’ yang baik adalah ‘Ph.D’ yang paham dan tahu arti sebuah tanggungjawab dari opini yang dilontarkannya?