Ayah dan ibu dari anak-anak ini memberi apa yang diminta anak. Kadang membentak atas perlakuan anak yang salah di mata mereka, tanpa menjelaskan persoalan yang terjadi. Kadang menegur orang lain yang sedang menasehati anak-anak mereka saat kesilapan terjadi di tengah masyarakat.
Keenam anak ini tumbuh dengan sendirinya. Belajar memahami hidup dengan apa adanya. Bimbingan orang tua yang awam akan pendidikan hanya selintas menyuruh mengaji di malam hari atau membangunkan di waktu pagi supaya tak terlambat ke sekolah. Saat si sulung melakukan kesalahan besar seperti balapan sepeda motor sendirian di jalan sepi, Ayah Ibu diam saja. Saat anak nomor dua dan tiga bernilai merah di raport, kedua orang tua ini pun tak tertanya alasan. Ayah dan Ibu menonton sinetron sehabis magrib, keenam anak ikut duduk bersama sepulang belajar mengaji. Anak-anak bahkan lebih hapal nama-nama aktor antagonis maupun protagonis dibandingkan perkalian maupun pembagian. Anak-anak lebih tahu jadwal acara gosip dari pada roster pelajaran esok harinya.
Ayah dan Ibu dalam keluarga ini mendidik anak-anaknya seperti air mengalir. Ke mana daerah rendah ke situlah muara dituju. Gonjang-ganjing dari dari kehidupan tak digubris karena – mungkin – bagi mereka keenam anaknya telah didik dengan benar. Nyatanya, si sulung sekali tinggal kelas di sekolah dasar dan sekali lagi tinggal kelas di menengah pertama; karena tak dapat membaca. Karena pula Ayah Ibu tergesa-gesa menginginkan anak-anaknya dewasa. Karena Ayah Ibu membiarkan anak-anaknya mencerna sendiri kehidupan tanpa ditatih ke mana tujuan sebenarnya.
Ini hanya kisah sebuah keluarga, di dekat saya, bisa dianggap nyata dan fiktif belaka. Namun, di sekitar kita begitulah adanya.
Apakah orang tua cukup melahirkan saja?
Mari kita perhatikan ilustrasi yang saya kutip dari laman facebook Sukan Star TV (sumber dari www.imuslimshop.com). Bahwa, setelah melahirkan anak-anak, orang tua memiliki tanggung jawab moril yang jauh lebih besar. Tanpa saya sebutkan juga, setiap orang tua paham betul bahwa anak itu dididik sejak dari dalam kandungan sampai mencapai batas dewasa. Ada pula yang mendefinisikan tanggung jawab terhadap anak terlepas dari orang tua setelah anak tersebut membina keluarga.
Penelitian yang dilakukan oleh Centre for Strategic and International Studies (CSIS) tahun 2014 menegaskan bahwa 85% remaja tinggal pada negara dengan indeks kesejahteraan yang relatif rendah. Dengan indeks proyeksi jumlah penduduk Indonesia tahun 2015 berada di angka 255,5 juta jiwa (Bappenas, 2013), Indonesia termasuk ke dalam penelitian dari CSIS tersebut. Kenapa saya katakan demikian, pertumbuhan penduduk Indonesia tidak bisa dibendung. Hari ini meninggal seorang saja, bisa jadi pada menit yang sama lahir sepuluh yang lain. Belum lagi kasus seperti problema keluarga yang telah saya sebutkan di atas, di mana seorang ibu menyembunyikan kehamilan karena terlalu “banyak” anak atau berdekatan umur antara satu anak dengan anak lain.
Kesejahteraan yang dimaksud CSIS secara universal mencakup ranah pendidikan maupun kesehatan. Kesejahteraan itu hadir dalam sebuah keluarga saat canda dan tawa membahana bahkan sampai menganggu tetangga. Keluarga yang ramai tentu susah sekali mengatur sebuah kata sejahtera. Sejahtera pada si sulung belum tentu dirasa oleh si bungsu. Setiap anak mendefinisikan sejahtarea sesuai keinginan mereka masing-masing. Kesejahteraan paling utama adalah terhindar dari gizi buruk yang kian mencekam. Lebih dari 17 ribu anak meninggal setiap hari akibat kekurangan gizi (Unicef, 2014). Di Indonesia, kekurangan gizi ini menjadi persoalan tersendiri. Dikutip dari laman RRI, Deputi Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kementerian Koordinasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Rachmat Sentika menjabarkan bahwa nyaris 24% balita di Indonesia mengalami kekurangan gizi (5,4% di antaranya adalah penderita gizi buruk). (www.rri.co.id, 23/2/15).
Keluarga mana yang ingin anak-anaknya mengalami kekurangan gizi? Masalah gizi sangat erat kaitannya dengan pemerataan kebutuhan pokok dalam keluarga. Keluarga yang memiliki penghasilan tetap di atas rata-rata tentu tidak masalah dengan hal ini. Keluarga yang tidak memiliki gaji tetap seperti jabaran keluarga di atas, kesulitan demi kesulitan akan dirasa. Anak yang sedang tumbuh tidak mau ambil pusing dalam bagian kehidupan rumit ini. Anak-anak hanya tahu kesenangan demi kesenangan karena telah dilahirkan ke dunia.