Kalau Tuhan Allah Ta'ala telah mencukupkan rezeki setiap mahluknya, kenapa ada si kaya dan si miskin ?
Ini soal rezeki dalam konsep kerdil yang nampak berupa lbaran yang akadang bisa berperan jadi setan dan tuhan bagi pemujanya.
Ya si merah, si biru jadi idola tiap pemuja atas nama kebebasan finansial yang dijadikan kode bawah sadar sebagai rezeki.
Benarkah rezeki hanya berupa lembaran yang bisa dijadikan indikator kasta seseorang dan punya kuasa atas pertukaran barang dan jasa ?
Tentu tidak. Dalam konsep lebih luas rezeki bisa berbentuk banyak hak, baik kesehatan, kesempatan, kebahagiaan dll sebagai rezeki, dan tentu butuh kesadaran tinggi untuk menikmati dan menjadikan semua hal menjadi sebuah rezeki.
Bagaimana konsep rezeki kalau semua sudah dicukupi kenapa ada yang kekurangan dan miskin ?
Ya sederhana saja kalau anda mau sedikit memahami konsep rezeki yang tercukupi, lihatlah bagaimana air hujan turun ke bumi.
Ya, air hujan turun kebumi jadi keberkahan dan jadi rezeki bagi mahluk dibumi, tinggal bagaimana mahluk bumi, bagaimana manusia menyiapkan diri menerima rezeki yang berlimpah itu, apakah wadahnya cukup sesuai kebutuhan atau hanya asal aja untuk nampung.
Jangan berharap banyak dapat air hujan kalau anda hanya menyiapkan cangkir kecil, benar kan ?
Lihat mereka yang punya tambak ikan yang luas ada ikan lele 3500 ekor dan anda yang hanya punya ember tanpa ikan ya pasti akan beda hasil rezeki atas air atas kegunaan air.
Tapi saya sudah punya wadah besar, ko rezeki saya kecil ?