Mohon tunggu...
aziz ahlaf
aziz ahlaf Mohon Tunggu... Editor - kita hanya berbeda acara dalam menggapai ridho tuhan

setiap kita punya cara unik dalam mengumpulkan pundi-pundi kebaikan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kenapa Mesti Ada Banjir Dulu Baru Saling Peduli?

2 Januari 2020   14:28 Diperbarui: 2 Januari 2020   14:41 233
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
banjir di perkampungan, rabu (1/1) // dokpri

a. Cerdasnya nambah

Loh kok bisa? bisa dong, apa sih yang kagak bisa buat gw?. (ketapa sambil sit up). Dulu saat ada banjir saya lebih cenderung pakai jurus langkah seribu, namun karena seringnya mengadapi banjir, tumbuh cerdas dadakan seperti menjadikan batang pohon sebagai alat mendayung, menjadikan sampah material sebagai alat untuk menyelematkan diri.

b. Kreatif juga nambah

"Ah lebay itu mah" ada sih yang nyinyir gitu. Saya jawab "biarin, daripada lu lebah macarin anak gadis orang, ambil sarinya lalu dibuang". 

Jadi gini, pernah terjebak banjir di Daerah Cipipnang Muara Prumpung kampung melayu, dibawah jembatan layang, ada mobil terjebak banjir, mobil mogok hampir terbawa arus, sepontan saya ketok pintu mobil agar keluar dari mobil, namun mereka kesusahan membuka pintu mobil karena separuh mobil terendam banjir, dengan segala usaha akhirnya terbuka itu pintu mobil.

Namun.. wow... alamammaa... yang keluar gadis cantik coy yang full ketakutan, spontan dia dekap erat tubuh saya yang urus kecil kaya belalang. Pertaruhan iman dan imin dimulai. Sampailah ia di tempat aman beserta ortunya. Rupanya setan lebih hebat dari kekuatan imanku, terjadilah curluk (curi-curi peluk, haha...ngakak sambil koprol) namun orang tua tak fokus karena panik dengan versinya masing-masing.

Nah, bagiku itu adalah kreatif, kalo kamu gak bilang ilang itu kreatif, ngiri lu ya?.. heheh..

c. Mental juga meningkat

Tanpa bermaksud takabur, ye elah takabur, emang gue tukang bubur. Saya sebenarnya parno dan pobia banjir, namun karena terlalu sering bertemu banjir, bahkan amit-amit jangan sampai berjuma dengan banjir deh, nyesek tau. (lebih nyesek ditinggal kawin oleh doi, tau), namun saat bertemu banjir justru malah bilang "banjir, yu ar debes plen. Jangan ajak aku berpetualang denganmu, kau berjalanlah bersama pasukanmu, hati-hati dijalan ya njir".

d. Kepedulian juga naik rating

Sebagaimana pada "poin a" diatas "kreatif juga namba". Awalnya muncul atas spontanitas tanpa banyak pikir macam-macam, tanpa pikir ini itu, yang terbesit adalah melihat sebuah mobil berpenghuni terlihat kesusahan bahkan dapat dipastikan akan terbawa arus yang entah berantah kemana. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun