TKW, dimanapun sama, yaitu sebutan bagi perempuan yang bekerja di negeri orang lain, baik sebagai cleaning service di rumah-rumah megah, atau sebagai baby sitter, atau yang ngurusin para sepuh. Begitulah masyarakat kita menginterpretasikan TKW, padahal jika dilihat dari arti per kata, maka yang disebut sebagai TKW adalah semua wanita yang bekerja, baik di luar ataupun didalam negeri, baik yang kerja kantoran ataupun rumahan.
Ah, sudahlah, tak perlu dibahas lebih panjang soal itu, terserah saja orang mau bagaimana mengartikannya, yang pasti TKW dan TKI punya gelar tersendiri yang tak pernah didapatkan oleh tenaga kerja di dalam negeri, pahlawan devisa. Ya, meskipun pada kenyataannya gelar itu tak membawa dampak apa-apa pada TKI sendiri dan pemerintah, tetap saja belum ada perhatian yang maksimal dari para penguasa.
Aku seorang TKW juga, di Mesir tepatnya. Aku bekerja pada seorang majikan asal Dubai yang hanya datang satu kali dalam satu atau dua bulan, untuk satu minggu saja. Beruntung memang aku mendapatkan pekerjaan ini. Dengan hanya beberapa hari bekerja, aku mendapatkan gaji satu bulan penuh. Selebihnya, kadang aku duduk di rumah atau mencari pekerjaan pada majikan lain. Jarang sekali kan (tapi pasti ada ) TKW yang mendapatkan pekerjaan seperti aku?. Teman-teman seprofesiku bilang, hanya duduk di rumah tapi gaji lancar, hehehe...
Tentu saja aku bersyukur dengan keadaan ini, tapi rasanya ada yang kurang (jangan salahkan aku, akal dan pikiranlah yang membuat manusia selalu merasa kurang ), ketika kusadari bahwa ruang hidup kami -TKW Mesir- bersisian dengan banyak mahasiswa Indonesia yang sebagian besar adalah mahasiswa Al-azhar, yang mereka sebut Masisir (Masyarakat Indonesia di Mesir, atau Mahasiswa Indonesia di Mesir??). Kedekatan itu nampaknya kurang begitu memberikan efek positif bagi kami, walaupun tidak juga berefek negatif. Sekedar kenal, saling menyapa, bersosialisasi, atau menjalani transaksi ekonomi, that's all.
Kenapa ya, kami tidak bisa berinteraksi dengan mereka lebih dari itu? Padahal kesempatan belum tentu datang dua kali, berdampingan dengan manusia-manusia berotak encer yang, menurutku adalah orang-orang terpilih—karena, seperti yang aku dengar, tidak sembarang orang indonesia bisa menginjakkan kaki di negeri kinanah ini. Untuk menjadi mahasiswa, mereka harus menjalani tes lebih dulu di tanah air.
Aku iri dengan kehidupan TKW-TKW hongkong, notabene mereka hidup di negeri yang sebagian besar penduduknya non muslim, hidup dengan western style dan, aku yakin mahasiswa Indonesia di sana tak sebanyak di sini, apalagi mahasiswa yang lulusan pesantren. Namun, dari yang kubaca dalam beberapa tulisan, baik di Kompasiana, Facebook dan media-media sejenis, mereka banyak mengadakan kegiatan positif, baik kegiatan keagamaan, sosial, maupun kegiatan lainnya. Aku iri, Wallahi iri dengan padat dan bermanfaatnya kegiatan mereka di sela kesibukan menjalankan tanggungjawab di rumah majikan—terlepas dari beberapa TKW yang latah ikut-ikutan gaya hidup orang barat .
Kenapa ya kami tak bisa seperti mereka? Kami tak pernah mengadakan kajian-kajian agama seperti jadwal halaqoh mereka yang tak kosong. Kami juga tak punya organisasi yang mampu mengorganisir anggotanya untuk menggalang dana atau bersama-sama menghidupkan syiar, menggali potensi terpendam, menambah ilmu. Kegiatan kami saat libur kerja, jika tidak duduk manis di depan komputer untuk saling berkomen-komen ria di Facebook, paling shopping mall, atau jalan ke hadiqoh dan tempat rekreasi lain, padahal seharusnya kami lebih memiliki kesempatan itu, bukankah kami tak perlu mendatangkan pembicara langsung dari Indonesia seperti yang kadang para TKW Hongkong lakukan meski dengan biaya yang tak sedikit, karena telah banyak tersedia pakar agama Islam asal Indonesia di Mesir?.
Kapan ya hubungan antara kami dan mahasiswa menjadi suatu simbiosis mutualisme yang, bukan hanya sekedar sebagai penjual dan konsumen di warung-warung makan indonesia, atau penyedia dan pengguna jasa di bidang pengiriman uang dan barang? Ah, andai saja hal itu bisa terwujud, maka memang akan sangat bermanfaat waktu luangku di saat menunggu majikan datang ke Mesir, dan akan menjadi lebih lengkap bekal pulang ke Indonesia nanti, karena bukan hanya uang yang kami bawa tapi juga ilmu.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H