Terkadang sebagai orang tua, kita merasa bahwa kitalah pemegang kuasa dan sudah paling adil dalam memutuskan suatu perkara. Namun, pahamkah kita bahwa anak-anak tidak senang apabila selalu menjadi orang yang disalah-salahkan, mereka ingin mendapatkan keadilan juga ketika terjadi suatu perkara.Â
Dalam hal ini, kejadian yang paling sering terjadi adalah ketika seorang kakak bermain dengan adiknya, ketika adik menangis, sasaran pertama adalah sang kakak. Padahal kita belum mengetahui duduk permasalahan yang terjadi antara kakak dan adik. Namun, kalimat refleks yang paling sering diucapkan oleh beberapa orang tua adalah "Kak, ngalah dong sama adeknya. Jangan jahat gitu sama adeknya." Tanpa kita sadari sebagai orang tua, kita telah menyalahkan dan melabel si kakak dengan kata "jahat".Â
Anak yang sudah remaja adalah partner bagi orang tua maka sudah selayaknyalah kita menumbuhkan sikap terbuka untuk saling berdiskusi sebagai teman. Terbitkan peraturan yang disepakati bersama untuk menciptakan lingkungan yang positif. Berikan ketentuan konsekuensi bila anak melanggar peraturan yang sudah disepakati.Â
Sebagaimana orang tua tidak suka jika diperlakukan buruk, maka jangan perlakukan anak kita dengan cara yang buruk pula. Mereka adalah pewaris teladan kita, sudah barang tentu kita harus memberikan teladan yang baik agar menjadi teladan bagi mereka.Â
Kelak mereka akan mendidik anak-anak mereka dengan teladanmu yang baik saat ini. Bukankah ini menjadi amal yang tidak akan putus kebaikannya? Maka dari itu, mari tumbuhkan perubahan kecil yang konsisten mulai hari ini.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI