Mohon tunggu...
Ika Ayra
Ika Ayra Mohon Tunggu... Penulis cerpen

Antologi cerpen: A Book with Hundred Colors of Story (jilid 1) dan Sewindu dalam Kota Cerita

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Yang Terlepas dan Pergi

24 Maret 2025   08:10 Diperbarui: 24 Maret 2025   13:36 101
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Foto ilustrasi: Kelly Ann dari Pinterest 

Siang yang sepi, seperti biasanya. Matahari mengintai dari balik pohon beech yang hampir mati. Seekor burung kecil melompat-lompat di rantingnya, lalu terbang menjauh.

"Aku akan menghubungi anak-anak karena aku ayahnya. Jadi jangan blok nomorku saat kau menemukan laki-laki lain!" katamu.

Aku tidak menyahut. Bahkan tidak ingin melihatmu untuk yang terakhir kalinya. Dari dua koper besar yang kau bawa, kupastikan kau tidak akan kembali lagi.

Aku menghela napas. 

Dua puluh dua tahun bukanlah waktu yang sebentar. Kau terlihat baik hanya di awal pernikahan. Namun selanjutnya, kau memperlihatkan tabiatmu yang kasar. Sepertinya kau lupa kalau aku melahirkan tiga bayi perempuan, merawatnya, hingga kau bisa disebut ayah. 

Banyak hal yang membuat rumah tangga kita seperti neraka. Berbagai situasi yang kuanggap normal bagi setiap pasangan, ternyata sangat tidak sehat dan membuat gila. Kau memanipulasi apapun untuk mengontrol hidupku, dan membuatku terjebak di dalamnya.

Tadinya aku mengira bisa memaklumi sikapmu. Atau mungkin bisa mengubahmu sedikit demi sedikit. Kucoba memahami seandainya kau lelah bekerja, atau bisa saja kau merasa frustrasi. Tapi ternyata aku hanya buang-buang waktu.

Pernah, aku mengajukan permohonan cerai ke pengadilan, namun kau mengancam akan membakar rumah ini jika kita sampai benar-benar bercerai. 

Mungkin kau tidak tahu kalau aku sangat lelah secara mental. Berkali-kali aku ingin mengakhiri hidup, tetapi seketika bayangan wajah anak-anak muncul di kepalaku.

Ketika aku berusaha kabur, kau memergoki dan lantas menghajarku. Merah, biru, ungu, menjadi lebam di sana-sini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun