Sampai suatu ketika, dalam artikel sang maestro dikatakan beliau berdua akan pulang ke Indonesia begitu wabah covid 19 dinyatakan sudah aman dan sudah tidak ada lockdown sama sekali.Â
Beberapa kota telah dimasukkan dalam agenda kunjungan, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Kupang, Denpasar, dan kota Padang sendiri, kampuang nan jauh di mato bagi beliau berdua.
Didorong oleh rasa yang bertaut tadi, saya kemudian menjawab dalam kolom komentar, sayang sekali Samarinda tidak termasuk dalam rencana kunjungan.
Di luar dugaan, komentar ini disambut baik oleh sang maestro. Beliau setuju menambah daftar kunjungan dengan menyertakan kota Samarinda meskipun jumlah kami hanya jemari sebelah tangan.
Maestro, pastilah rendah hati
Jika salah satu Kompasianer merasa tidak percaya, sang maestro sungguh-sungguh melangkahkan kakinya ke kota kami, saya sangat maklum.Â
"Beliau mungkin sekalian ada urusan lain di sana. Tidak heran karena beliau suka travel, kan?" katanya.
Nyatanya, sang maestro tak pernah meninggalkan hotel tempat menginap selain menghadiri acara temu Kompasianer yang sudah direncanakan jauh-jauh hari tersebut.
Sahabat dari praktisi kesehatan Waskita Reiki sendiri, meski rencana kedatangan ini telah disosialisasi melalui media sosial, peserta undangan yang mewakili hanya berjumlah empat orang. Yaitu Ibu Sulikah beserta suami, Ibu Dewi, dan Pak H. Eko.
Maka tidak berlebihan jika saya katakan sang panutan memiliki sifat rendah hati. Mau mengorbankan waktu, tenaga, dan biaya, meskipun untuk segelintir orang saja.Â
Sang maestro telah menjembatani pertemuan di antara Sahabat Kompasianer. Sungguh amat rendah hati.
Pertemuan yang hangat dan membahagiakan
Atas pertimbangan ini, saya sebagai yang dipercayakan untuk mengurus reservasi hotel dan rumah makan Padang, mengambil inisiatif mengarahkan Sahabat Kompasianer Samarinda dan Balikpapan.