Selamat ulang tahun ke-79, Bunda. Semoga dilimpahi kesehatan, kebahagiaan, dan selalu dalam lindungan Sang Kuasa.
Melengkapi tulisan sebelumnya saat Ayah Tjiptadinata berulang tahun pada 21 Mei, menjadi suatu kebahagiaan bagi saya bisa menandai hari ini sebagai peringatan ulang tahun bagi Bunda Roselina Tjiptadinata, yang akrab saya sapa, Bunda kesayangan.
Mengapa menggunakan sapaan 'Bunda kesayangan'?
Mengenai hal tersebut, izinkan saya bercerita.
Membaca tulisan demi tulisan diary Bunda Roselina, membuat imaji saya bekerja. Saya berusaha membayangkan dan menyatukan cuplikan kisah satu dengan kisah lainnya.Â
Timbul kesan mendalam yang melahirkan kekaguman dalam benak saya pribadi. Bagi saya, sosok Bunda Roselina begitu luar biasa. Sapaan 'Bunda kesayangan' pun muncul begitu saja.Â
Satu hal yang menarik perhatian saya, bahwa beliau dikelilingi oleh orang-orang yang sangat menyayangi: suami, anak, mantu, bahkan hewan berang-berang peliharanan pada masa itu.
Artikel Bunda Roselina: Berang-berang yang Manis
Sedikit menyegarkan ingatan Sahabat pembaca, saat itu Bunda dan Ayah Tjipta berlibur seminggu ke kota Brastagi (Medan). Tujuh ekor anak berang-berang dititipkan pada sang adik untuk dirawat yaitu dengan diberikan minum susu.Â
Ternyata anak berang-berang menjadi murung di sudut kandang dan tidak mau bermain di kolam seperti biasa.Â
Sejak hari ketiga, anak berang-berang yang stres karena merasa kehilangan tuannya, menjadi mati satu per satu.
Masih banyak kisah lain dalam kehidupan Bunda Roselina. Baik di rumah, di tempat beliau mengajar, di perusahaan asuransi tempat beliau bekerja, di mata teman-teman organisasi radio amatir (ORARI), maupun di mata para sahabat Yayasan Waskita Reiki, yang menunjukkan beliau adalah kesayangan.