Anak kembar yang sering kita temui, biasanya cantik, lucu, dan sehat. Faktanya, mereka tidak selalu membawa sifat genetik yang sama.
Zeva, anak kembar penyandang disabilitas
Ini juga terjadi pada Zeva, anak kembar penyandang disabilitas dekat tempat saya tinggal.
Dari ibunya saya ketahui, bayi Zeva sudah berwarna kebiruan saat akan menyusu pertama kali. Peristiwa ini dikenal sebagai sindrom bayi biru/sianosis.
Menurut dr. Ariana Heidiyana dari klikdokter.com, “Meski tidak umum terjadi, kondisi ini bisa dipicu oleh kelainan genetik, ada penyakit jantung bawaan, atau kelainan darah.” (Sumber)
Memang menurut ibunya Zeva, dokter terlambat menangani karena sebuah insiden di rumah sakit. Bayi Zeva menelan banyak air ketuban.
Saat berusia lima tahun, Zeva mengalami kejang. Sejak itulah ibunya menyadari salah satu anak kembarnya memiliki kebutuhan khusus.
Selama lima tahun, Zeva menjalaniP pengobatan dan terapi dengan menggunakan kartu jaminan kesehatan dari pemerintah daerah. Pengobatan terhenti sejak adanya pandemi. Ruang perawatan dialihfungsikan sesuai kebutuhan rumah sakit.
Menurut ibunya, selama menjalani perawatan, perkembangan Zeva sangat positip. Dibandingkan anak-anak dengan masalah yang sama, Zeva terbilang tenang dan mudah diatur. Kegemarannya menggambar juga sangat bermanfaat untuk melatih ketenangannya.
Saat ini, Zeva bersekolah di Yayasan Pendidikan Luar Biasa sebagai siswi kelas satu SMP. Selama masa pembelajaran daring, semangat belajarnya tidak bisa dipaksakan. Terkadang Zeva enggan belajar sama sekali.