Tiba-tiba saja aku ingin menulis puisi tentang patah hati, padahal aku sedang jatuh cinta kepada perempuan yang ia tidak tahu aku selalu memujanya dalam setiap puisi-puisiku.Â
Kurasa perempuan itu datang bersama gerimis, kulihat geriap rambutnya ada percikan air. Ia selalu menyanyi setiap malam di panggung kecil, di sudut sebuah kafe. Ia menyanyi dengan seluruh tubuhnya, tapi tidak matanya. Ia tetap bernyanyi walau seruangan cafe tak peduli.Â
Kurasa aku harus menulis puisi.Â
Bisakah duduk sejenak, mendengarkan kehangatan hati, aku menahannya seusai menyanyi. Tidak, jawabnya. "Aku harus sampai di rumah sebelum dentang jarum jam menunjukkan angka dua belas," ia menolak.Â
Ia pun berlari.Â
Adakah sebelah sepatunya tertinggal? Ah, pikiranku terlalu mengada-ada, seolah-olah aku sedang masuk dalam cerita Cinderella. Tapi yang jelas ia bukan seorang bidadari.Â
Aku tidak ingin tertipu soal bidadari ini. Aku pernah terkecoh dengan iklan parfum, yang bisa membuat bidadari berjatuhan setelah tubuh tersemprot parfum itu.Â
Tidak. Aku tidak akan mengadukan pabrik parfum itu ke polisi, karena perempuan itu, yang menyanyi di panggung kecil sudut kafe, dan pengunjung tak memedulikannya, di mataku telah menjelma menjadi bidadari; berjatuhan di hatiku.Â
Maka ia akan kuabadikan dalam puisi-puisiku, walau aku tahu tak akan sanggup melakukannya. Perempuan itu, tubuhnya, gerak-geriknya, segalanya, adalah puisi itu sendiri.Â
***
Sepertinya aku tidak jadi menulis puisi tentang patah hati; perempuan penuh puisi itu penyebabnya. Tapi seperti yang kukatakan semula, aku tidak sanggup menulis tentang perempuan itu. Mungkin aku hanya menuliskan tentang perasaanku saja, tentang hal-hal yang menggembirakan hati; cinta, tentu saja.Â
Aku tidak ingin tahu namanya, juga tak peduli apakah ia sudah mempunyai kekasih atau tidak. Tak penting pula bagiku, apakah ia sudah bersuami atau belum, dan sederet anak menanti di rumah.Â
Aku juga tak ingin bercerita, apakah aku mempunyai kekasih, Istri, atau sebarisan anak menunggu di rumah.Â
Cukuplah dia menjadi perempuan puisi bagiku. Dia, ah, bukankah sudah kukatakan - catat, ini yang ketiga kali  -  aku tidak sanggup menulis puisi tentang dirinya.Â
Kalau tidak percaya, boleh panggil Chairil Anwar. Penyair 'binatang jalang' itu pun tak akan sanggup menuliskannya. Apatah lagi penyair recehan seperti diriku.Â
***
Malam ini perempuan puisi itu masih berdiri di panggung kecil di sudut kafe; ia bernyanyi dengan seluruh tubuhnya. Kali ini matanya ikut bernyanyi. Akukah  penyebabnya?Â
Sudah kupesan cappuccino hangat untuk dirinya. Sudah kusiapkan pula cerita-cerita hujan, yang beberapa malam ini membasahi hatiku.Â
Seusai bernyanyi perempuan puisi itu menghampiri mejaku. Tersenyum.Â
Aku harap kalian tidak jengkel, atau marah pada diriku, karena untuk selanjutnya, izinkan, itu hanya menjadi cerita kami berdua.Â
***
Cilegon, Desember 2019.Â
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI