Ketika gerimis di minggu terakhir bulan Maret berubah menjadi hujan badai dan bibit siklon tropis berhembus kencang ke arah timur selatan menuju samudra lepas, warna daun dan bunga kuning, merah, dan jingga memudar menjadi cokelat dan membusuk seperti mayat-mayat kecil di tanah.
Ketenangan yang mencekam merusak rerumputan, serbuan kecoak berlalu, dan mereka yang berbicara tentang April cerah terdengar seperti pembohong. Bagaimanapun juga, ritual mudik harus terjadi, dan semua tikus yang menggaruk dan mencakar jalan mereka ke kantor-kantor kumuh dan kembali setiap hari memulai perjalanan untuk menenangkan keluarga mereka yang menyebalkan di kampung halaman, untuk menyantap ketupat dan lauk pauk, minum minuman bersoda dan koktail buah, dan menonton tim sepak bola favorit mereka kalah.
Tapi siapa aku untuk menghakimi?
Seekor tikus juga. Karena itu, aku mengemasi travel bag dan melaju kencang, tiba di bandara tidak lama kemudian pada hari Kamis sore yang gila, dan terbang melintasi lautan ke Talang Betutu---tetapi tidak mendarat. Ada badai di sana.
Kami berputar-putar di udara. Jendela-jendelanya buram berawan.
Pilot mengumumkan, "Kita telah dialihkan. Maaf, tapi badai ini di luar kemampuan kami. Kita akan mendarat kembali di Bandara Soeta dalam waktu satu jam sepuluh menit."
Dengan jijik aku bereaksi terhadap berita itu dengan menggerutu, "Bukankah ada kru darat yang seharusnya membersihkan landasan pacu?"
Pramugari berkata, "Itu bukan salah siapa pun," dan melotot ke arahku.
Aku memilih untuk diam. Apa pun yang terjadi, situasinya terlanjur kacau.
Kami mendarat, meluncur melewati genangan, dan turun---ke dalam kekacauan yang sangat dahsyat yang mengerdilkan mimpi terliarku.