Mohon tunggu...
Ikhwanul Halim
Ikhwanul Halim Mohon Tunggu... Penyair Majenun

Father. Husband. Totally awesome geek. Urban nomad. Sinner. Skepticist. Believer. Great pretender. Truth seeker. Publisher. Author. Writer. Editor. Psychopoet. Space dreamer. https://ikhwanulhalim.com WA: +62 821 6779 2955

Selanjutnya

Tutup

Cerbung Pilihan

Tiket Mudik Gratis (Prolog)

24 Maret 2025   12:29 Diperbarui: 30 Maret 2025   10:27 88
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar ilustrasi: dok. pri. Ikhwanul Halim

Ketika gerimis di minggu terakhir bulan Maret berubah menjadi hujan badai dan bibit siklon tropis berhembus kencang ke arah timur selatan menuju samudra lepas, warna daun dan bunga kuning, merah, dan jingga memudar menjadi cokelat dan membusuk seperti mayat-mayat kecil di tanah. 

Ketenangan yang mencekam merusak rerumputan, serbuan kecoak berlalu, dan mereka yang berbicara tentang April cerah terdengar seperti pembohong. Bagaimanapun juga, ritual mudik harus terjadi, dan semua tikus yang menggaruk dan mencakar jalan mereka ke kantor-kantor kumuh dan kembali setiap hari memulai perjalanan untuk menenangkan keluarga mereka yang menyebalkan di kampung halaman, untuk menyantap ketupat dan lauk pauk, minum minuman bersoda dan koktail buah, dan menonton tim sepak bola favorit mereka kalah. 

Tapi siapa aku untuk menghakimi? 

Seekor tikus juga. Karena itu, aku mengemasi travel bag dan melaju kencang, tiba di bandara tidak lama kemudian pada hari Kamis sore yang gila, dan terbang melintasi lautan ke Talang Betutu---tetapi tidak mendarat. Ada badai di sana. 

Kami berputar-putar di udara. Jendela-jendelanya buram berawan. 

Pilot mengumumkan, "Kita telah dialihkan. Maaf, tapi badai ini di luar kemampuan kami. Kita akan mendarat kembali di Bandara Soeta dalam waktu satu jam sepuluh menit."

Dengan jijik aku bereaksi terhadap berita itu dengan menggerutu, "Bukankah ada kru darat yang seharusnya membersihkan landasan pacu?" 

Pramugari berkata, "Itu bukan salah siapa pun," dan melotot ke arahku. 

Aku memilih untuk diam. Apa pun yang terjadi, situasinya terlanjur kacau.

Kami mendarat, meluncur melewati genangan, dan turun---ke dalam kekacauan yang sangat dahsyat yang mengerdilkan mimpi terliarku. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerbung Selengkapnya
Lihat Cerbung Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun