"Pejamkan mata dan rasakan. Rasakan kehangatan sinar mentari merayap di wajahmu, keajaiban mengalir mengisi pembuluh darahmu. Kehidupan."
Nanja, Penyihir Matahari
***
Di belakang meja kasir Toko Serba Ada Nyi Citraloka Jl. Braga 3210, atau 666, kadang-kadang 6 6/6---tergantung kemampuan psikis pengamat, di balik tabir yang menghalangi pandangan mata manusia, terletak markas para Penyihir Kota Kembang yang sebenarnya.
Setiap komunitas punya markasnya sendiri. Para Penyihir Matahari mendiami gubuk-gubuk reyot yang mengelilingi rumah kaca di perkebunan yang luas dilindungi oleh sihir. Liga Penyihir Seteru di tempat penampungan di lokasi yang tidak diketahui di mana tiga ratus pria, wanita dan anak-anak dibantai selama Perang Bubat. Klub Penyihir Darah dan Airmata tinggal di bawah Rumah Gajah. Penyihir Malam ... markas mereka  tidak diketahui selama berabad-abad. Atau, lebih tepatnya, tidak ada yang pernah ke sana dan kembali.
Dan selama berabad-abad, para Penyihir Kota Kembang menempati di sebuah gua tempat air sungai CIkapundung membentang di bawah tanah. Gua Penyihir Kota Kembang adalah satu-satunya markas yang tidak dibangun oleh tangan manusia. Gua itu hadiah dari para dewa, atau begitulah menurut legenda.
Di malam hari, penyihir Kota Kembang pergi ke kamar masing-masing yang diukir di batu dan matra, dan mereka tidur.
Dan beberapa dari mereka, sayangnya, bermimpi.
Ketika tidur, manusia berhadapan dengan pikiran yang disembunyikan di alam bawah sadar, yang menjadi hidup untuk menghantui tidur.
Dan tidak ada yang memiliki pikiran yang lebih berbahaya daripada penyihir.