Aku bangun pagi ini, basah kuyup oleh keringat. Gaung mimpi semalam masih melekat di benakku.
Aku ingat aku berada di sebuah dunia. Mirip dengan dunia kita, tetapi berbeda. Orang-orang berjalan bersama dan mengobrol, tertawa, kepala bergoyang ke belakang secara histeris, tapi anehnya, tidak ada suara yang keluar dari tenggorokan mereka.
Aku melewati sepasang kekasih, lengan saling bergandengan. Mereka saling berhadapan, mengobrol tanpa suara, dan bibir mereka tersenyum tetapi mata mereka menjerit, dan tangan mereka mengepal erat karena ketakberdayaan.
Aku terbangun, basah kuyup oleh keringat, menjerit sekuat tenaga meski tak tahu mengapa.
Setelah mandi air pancuran dingin dan berpakaian, masuk ke dalam mobil, menyetir di jalanan padat merayapmenuju kantor, ketika duduk di kursi empuk depan meja dan mulai bekerja, mimpi itu tak juga hilang.
Dan aku menghabiskan hariku di ponsel, menawarkan janji manis untuk permohonan tanpa harapan. Dan dalam perjalanan pulang, sebagai seorang pria yang putus asa menjual idealisme demi uang, tetapi tidak ada yang memperhatikan.
Dan aku menyalakan TV dan mendengarkan dua politisi berdebat, tidak ada suara lain.
Dan aku bertanya-tanya, jangan-jangan diriku masih bermimpi.
Bandung, 9 Maret 2022
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H