Aku menemukan cinta, di dua bola mata yang tertata indah di wajahmu. Sepasang mata yang mempesona, membuatku terpesona pula merona.
Aku menemukan rasa yang gembira, sejurus dengan bahagia yang bersemayam di ragaku. Itu berkat yang adalah karenamu, kasih sayangmu itu... yang memang untuk aku.
Aku menemukan nuansa surga, sebab mengenalmu. Sosokmu adalah puji juga puja yang sangat aku syukuri sepenuh hati, segenap jiwa raga.
Aku menemukan sumber cahaya, itu semua tentu berkat tuturmu itu. Tutur yang ajarkan aku menata pola rasa, menata tata krama, juga menata apa saja yang tak boleh hanya ala kadarnya saja.
Aku yang tentu saja aku, kemudian menemukan luka juga duka. Sebab aku kehilanganmu, di usiaku yang belum bertumbuh dewasa, di usiaku yang baru beranjak remaja.
"Jangan takut, aku akan senantiasa dekat denganmu. Memperhatikan juga mendoakanmu selalu, yang terbaik dan benar untukmu sesuai ijin yang adalah restu-Nya."Â Bisikmu saat itu, yang adalah doa sekaligus penyemangat hidupku.
Dirimu adalah yang terbaik, dirimu adalah yang terhebat. Dirimu adalah diriku, sebab aku terlahir dari rahimmu. Ya! dirimu adalah seorang ibu pilihanku, satu yang aku hormati, aku kagumi sepanjang waktu.
Kelak kita berdua akan kembali bersua, di satu masa yang adalah saat kita untuk lagi dan lagi bertegur sapa, meraih damai juga lega bagi jiwa kita yang akan senantiasa bersama.
Salam hangat dan peluk eratku, hanya teruntukmu. Ibuku yang adalah tauladanku. Ibuku yang adalah penerang jalanku, pula senyummu yang hingga detik ini masih setia menemaniku.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H