Mohon tunggu...
Ridwan Ali
Ridwan Ali Mohon Tunggu... Freelancer - Me Myself and I

Baiklah, kita mulai. Ceritanya, lanjutannya.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Selamat Datang... Bulan yang Baru

1 Juni 2020   00:01 Diperbarui: 31 Mei 2020   23:54 101
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Source: pixabay.com


"Situasi kekinian menjelang pergantian bulan..."

Terkadang inilah rupanya, ketika A bergantung ke B, lalu B bergantung ke C yang ternyata C bergantung ke D. Eh ternyata, fakta membuktikan bahwasannya seorang D dalam banyak hal, justru bagaimana sebaiknya menurut A saja... dan itu membuat terjadi sirkulasi yang hanya sempat jeda sebentar saja diantara mereka. Entah disadari atau tidak, ya begitulah adanya.

Satu pertanyaan terbersit... siapa sebenarnya yang memang layak juga pantas, menjadi sosok seorang pemimpin atau katakanlah seorang panutan yang memang layak untuk diandalkan, dikedepankan diantara mereka? Pun tentunya bisa menjadi seorang tauladan. Mungkinkah semuanya, misalkan dengan cara bergantian? 

Atau sebenarnya inilah kenyataan, dimana saling ketergantungan adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri? Yang sebenarnya cukup sulit yang naif bila memilih salah satu diantaranya untuk dijadikan seorang suri tauladan.

Ketika kenyataan hidup yang memang semestinya bisa saling melengkapi, dibumbui beda persepsi, beda visi misi. Bahkan tak sedikit yang ujung-ujungnya justru terjadi unjuk gigi yang berakhir gigit jari. Ya... inilah warna asli kisah nyata di belahan bumi yang bisa terjadi dimana saja yang tentunya bisa kapan saja, yang antara siapa dan siapa versus siapa.

Seandainya yang apabila memaknai lika-liku jalur komunikasi adalah satu jenis warna saja, warna apa sebenarnya yang semestinya menjadi pilihan? Warna putih? Warna hitam? Atau justru akan memilih warna yang samar, yang bernama warna abu-abu bercorak pilu entah ujung-ujungnya terasa ngilu.

Apakah jalur komunikasi seorang individu terlalu banyak pola atau konsep yang kurang bisa dilandasi ketegasan sesuai yang seharusnya dijalankan? 

Ataukah biarkan saja mengalir apa adanya? Meski terkadang tak terarah dan melenceng dari jalur utama komunikasi yang alangkah bijaknya bilamana bisa menyehatkan bagi semua pihak. 

Apakah plin-plan layak untuk masuk kategori pilihan yang harus dikedepankan dalam rangka menikmati banyak sesi komunikasi yang cukup ala kadarnya saja tanpa secuilpun makna yang bernilai tenggang rasa?

Ah... begitu banyak rupa pertanyaan yang hilir mudik di pikiran tentang apa itu komunikasi yang semestinya demi terwujudnya silaturahmi tanpa egosentris yang bisa saja membuat miris situasi. Gundah bercampur rancu jadinya, manakala tak kunjung jua bersua sebuah titik temu yang bermutu di aneka ragam situasi yang niatnya adalah silaturahmi.

Alur kehidupan memang tidak akan datar-datar saja sih, tapi... apakah mesti membuat percikan-percikan yang justru hanya akan melahirkan sebentuk kericuhan? 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun