Saat mobil berhenti Ambar dan Atin memutuskan untuk shalat sambil menunggu mobil bisa jalan kembali. Aku menunggu diluar sembari jongkok dan menghadap mobil yang terparkir didepanku. Sambil memainkan botol dan memakan beberapa cemilan yang tersisa. Hanif pun menyusul jongkok disebelahku bersama Ririn.
Setelah mobil kami berhenti, kendaraan yang kami lewati tadi mendahului. Satu persatu, tapi tidak dengan kedua ibu-ibu yang duduk di motor. Aku pikir mungkin berhenti dibelakang. Tapi jelas ku ingat sama sekali tidak ada rumah apalagi jalan lain. Ah sudahlah.
"Guys rumah keluarga aku yang di Tasik kalau malem lebih rame daripada disini" ujarnya santai.
"Gandeng haniiip" (Berisik haniiiip) jawabku.
"Ih iya Mia, aku mah ngasih tau aja." katanya.
"Iya tau kamu udah ngomong berkali-kali. Udah sekarang mah diem." balasku melirik kesal.
Ambar dan Atin kembali setelah selesai shalat.
"Masih belum bener?" tanya Atin.
"Belum kayaknya." jawab Ririn.
"Eh tadi, kata bapak-bapak yang di mesjid nanyain kenapa kita mogok." ujar Ambar.
"Terus teteh jawab apa?" (Teteh sapaan untuk orang yang lebih tua dalam bahasa Sunda) tanyaku.