Saat itu, sedang viral postingan "ibu ibu anjay" ada yang pernah ingat? Itu loh ibu-ibu yang ternyata bukan ibu-ibu.
Kami melewati ibu-ibu yang berboncengan tersebut dan juga bus didepannya. Saat kami menyalip, beberapa temanku berteriak "ibuu ibuuu anjaaayyy" dengan selipan candaan kala itu. Mobil pun melaju dengan lancar tanpa harus menunggu lama.
Tak berselang lama, Hanif mencium aroma ikan yang tak biasa.
"Mi kamu beli naon sih?" (Mi, kamu beli apa sih?) tanyanya padaku.
"Ikan sama udang. Adanya itu" balasku sambil mengetuk layar ponsel.
"Kok baunya hanyir pisan sih, tadi asa teu bau kieu," (Kok, baunya amis banget sih, tadi kayaknya gak bau kayak gini,) tegurnya padaku.
"Enya kitu? Ah irung didinya weh mereun." (Iya gitu? Ah idung kamu aja mungkin) jawabku santai. Aku memang tidak mencium bau amis yang tak lazim. Menurutku baunya sama seperti pertama kali masuk ke dalam mobil.
"Ih anjir bener ieu hanyir pisan sumpah." (Ih anjir, bener ini amis banget sumpah,) ujarnya kesal.
Namun tak ada seorangpun yang membalas omongan Hanif. Saat itu pikirku memang anak ini tidak biasa mencium bau ikan segar.
Mobil terus melaju. Menunjukkan waktu yang mana sudah mendekati waktu isya. Rasanya lambat sekali, dan jalanan masih hutan disekeliling kami. Tak lama tiba-tiba mobil bau terbakar. Dan kepulan asap keluar dari depan mobil, saat itu kami menaiki mobil A*an*a. (Duh monmaap nih aku gatau bagian-bagian mobil jadi aku bilang depan belakang gitu deh ya).
Kami pun memutuskan mencari tempat yang cukup terang untuk berhenti. Tak jauh ada masjid disebelah kiri kami dan kami berhenti sambil mengecek kondisi mobil. Dari sepanjang perjalanan pulang lokasi tersebut merupakan lokasi pertama kami menemukan rumah warga atau suasana yang hidup. Sebelumnya tak ada jalan lain, cahaya apalagi rumah dan penduduk.