2. Bangun Empati dari Jejak Sejarah dalam Sastra
Karya sastra merupakan cerminan dari kehidupan manusia dan ditulis dengan bahasa yang indah. Hal ini mampu membangun rasa empati terhadap karakternya.
Selain itu, membaca karya yang menggambarkan pengalaman dapat juga membantu saya mengurangi rasa kesepian. Biasanya akan timbul pernyataan bahwa "Ternyata saya tidak sendiri" atau "Ternyata kehidupan zaman dahulu lebih mengerikan".
Rekomendasi: Corat-coret di Toilet karya Eka Kurniawan, Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan, buku-buku Pramoedya Ananta Toer, semua kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma (Saksi Mata dan Dunia Sukab), Malam Terakhir karya Leila S. Chudori, dan novel-novel Leila S. Chudori.
3. Motivasi
Jika ingin coping mechanism yang tidak sekadar fokus pada perasaan, saya biasanya membaca beberapa bacaan yang filosofis. Kamu juga bisa membaca kisah perjuangan seseorang (biografi).
Sejauh ini, saya belum pernah membaca biografi tokoh. Akan tetapi, saya bisa memberikan beberapa rekomendasi buku yang membuat pribadi lebih baik.
Rekomendasi: Berdamai dengan Kegagalan karya Dewi Indra P., Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat karya Mark Manson, dan Filosofi Teras karya Henry Manampiring.
4. Meningkatkan Mindfulness
Membaca dan menulis dapat meningkatkan fokus, loh. Saya biasanya berusaha menjauhkan ponsel saat melakoninya. Tidak ada rekomendasi khusus sebab membaca apa pun mampu melatih mindfulness.
Dari kedua hobi tersebut, saya belajar untuk hadir di waktu sekarang. Pikiran tentang masa lalu dan ketakutan pada masa depan tidak perlu hadir saat membaca sebuah karya tulis.