Hari ini Nana dan ibunya pergi ke Doker Gigi untuk memeriksakan gigi secara rutin. Mereka sampai di tempat praktek Dokter Gigi. Pintunya masih tertutup, berarti praktek belum dimulai. Tetapi disana ada seorang suster sedang duduk menerima pendaftaran pasien. Nana dan ibunya langsung mendaftar. Mereka mendapat giliran nomor lima belas, lalu mereka mencari tempat duduk untuk menunggu.Â
     Nana menunggu gilirannya dengan sabar. Dia memang dikenal sebagai anak yang pintar, sabar dan baik hati. "Nana, nomor tunggu kamu kan masih lama, kalau kamu bosan kamu boleh bermain dulu di taman itu. " kata ibu. "Horeeee...boleh, Bu? " seru Nana senang sekali dan langsung berlari ke taman.Â
     Di taman Nana melihat ayunan dan luncuran. Nana ingin sekali mencoba luncuran. Di sana ada beberapa anak sedang antri di depan tangganya. Nana berdiri di belakang mereka, menunggu giliran.Â
     Tiba-tiba, seorang anak bertubuh besar dan gendut bernama Koko menyeruak antrian. Dia mendorong siapa saja yang berada di depannya. "Adu.....hh !" Jerit seorang anak kecil yang terjatuh. "Hei antri dulu...! "Seru anak-anak lain serempak.Â
     Koko tidak peduli. Dia menaiki tangga dengan cepat. Seorang anak kurus bernama Luki menarik kaki koko dengan sekuat tenaga. Si Koko menghentakkan kakinya. Kemudian dia meluncur turun dan cepat-cepat mendatangi Luki sambil bertolak pinggang, " Kamu bisa membuat aku jatuh, tahu ! "serunya marah. " Kamu sendiri yang salah. Kamu mendahului, disuruh antri kok tidak mau! " balas Luki bertolak pinggang pula.Â
     Nana takut akan terjadi perkelahian, dengan cepat dia melompat untuk menengahi keduanya, sambil berkata : "Sudah, sudah......jangan bertengkar, tidak ada gunanya. Kamu Koko coba bayangkan bagaimana perasaanmu kalau giliranmu di rebut orang?! ". Koko tercengang, dia memikirkan kata-kata Nana. " Tentu saja, aku pasti marah kepadanya! "kata Koko sambil menepuk dada. Kemudian dia terdiam, dia sadar telah membuat banyak anak marah.Â
      Lalu Nana berpaling pada Luki dan bertanya, " Kalau ada yang menarik kakimu ketika kamu berada di atas tangga bagaimana?!". " Aku akan marah. Itukan berbahaya, aku bisa jatuh... "Sahut Luki. Dia terdiam, dia merasakan bersalah pada Koko. " Nah....kalau kalian sudah tahu perbuatan itu salah, ayo sekarang minta maaf dan berbaikan. Jangan di ulangi lagi ya... "kata Nana. " Maafkan aku, ya Luki!"pinta Koko. "Sama-sama, aku juga minta maaf, ya Ko! " Kata Luki. Mereka saling berjabat tangan. "Nah.... begitu lebih baik. Yuk.... Sekarang kita main lagi! " ajak Nana. "Horeeeeeee....... Ayo....! " seru anak-anak senang. Mereka bermain bersama, tidak ada lagi yang mendahului. Mereka saling bergantian.Â
      Waktu berlalu tanpa terasa. Nana hampir lupa kalau dia sedang menunggu giliran untuk periksa gigi. Ketika ibu memanggilnya, sebenarnya, Nana enggan meninggalkan teman-teman, aku harus periksa gigiki dulu, ya..?! sampai bertemu lagi...... Assalamu'alaikum!" kata Nana sambil meninggalkan teman-teman nya. Demikianlah cerita saya.Â
      Nah dari cerita tadi dapat diambil pelajaran bahwa kita harus saling menghormati dan menyayangi orang lain dengan cara tidak merebut giliran orang lain, Karena itu akan membuat orang lain marah dan membenci kita. Nanti kita tidak disayang Allah. Karena Allah selalu menyanyangi hamba-Nya yang menghormati orang lain, sabar menunggu giliran juga selalu minta maaf bila berbuat salah seperti Koko dan Luki.Â
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI