Mohon tunggu...
Audiya Nur
Audiya Nur Mohon Tunggu... Mahasiswa

suka menonton film dan mendengarkan musik

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Belajar dengan Stimulus dan Respons Apakah Masih Efektif di Era Digital?

18 Maret 2025   01:38 Diperbarui: 18 Maret 2025   01:38 25
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Pendidikan berperan besar dalam pembentukan kepribadian dan kecerdasan siswa menguasai pengetahuan dan keterampilan. Salah satu teori yang sering diterapkan dalam proses pembelajaran adalah teori behaviorisme. Teori behaviorisme mengutamakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku akibat dari interaksi antara stimulus dan respons. Orang dikatakan telah belajar apabila ada perubahan yang teramati dalam perilakunya. Oleh karena itu, dalam pendekatan ini, peranan guru sangatlah penting dalam menciptakan kondisi belajar yang kondusif juga memberikan penguatan (reinforcement) agar siswa bisa mendapatkan hasil belajar yang optimal.

Di era digital masa kini, teori behaviorisme tetap sangat relevan untuk diaplikasikan, terutama pada penggunaan teknologi pembelajaran yang lebih efisien dan meningkatkan partisipasi siswa dalam proses belajar.

Bagaimana pelaksanaan teori behaviorisme pada bidang pendidikan? Dan apa saja yang merupakan manfaat serta keterbatasan yang dihadapi? Dalam artikel ini, akan dibahas lebih jauh lagi tentang teori behaviorisme pada belajar serta pengaruhnya terhadap sistem pendidikan saat ini.

Apa itu Teori Behaviorisme?

Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa kita bisa menghafal lagu setelah sering mendengarnya? Atau mengapa anak kecil cepat mengenali warna setelah diberi pujian? Semua ini berkaitan dengan teori behaviorisme, yang menyatakan bahwa belajar terjadi karena adanya hubungan antara stimulus (rangsangan) dan respons (tanggapan).

Dalam pendekatan ini, seseorang dikatakan telah belajar jika terjadi perubahan perilaku yang bisa diamati dan diukur. Teori ini banyak diterapkan dalam pendidikan untuk membentuk disiplin, membangun kebiasaan belajar, dan meningkatkan keterampilan dasar siswa.

Beberapa tokoh utama dalam teori ini adalah Edward Thorndike, Ivan Pavlov, dan B.F. Skinner. Mereka percaya bahwa pembelajaran bisa diperkuat melalui pengulangan, hadiah (reward), dan hukuman (punishment). Artinya, siswa lebih termotivasi untuk belajar jika ada dorongan positif atau konsekuensi yang diberikan.

Ivan Pavlov mengembangkan teori kondisioning klasik yang menunjukkan bahwa stimulus tertentu dapat memicu respons otomatis. Dalam eksperimen terkenalnya, Pavlov menemukan bahwa anjing dapat dilatih untuk mengeluarkan air liur setiap kali mendengar bunyi bel, jika sebelumnya bunyi tersebut selalu dikaitkan dengan pemberian makanan. Hal ini membuktikan bahwa perilaku dapat dibentuk melalui asosiasi antara stimulus netral dan respons alami, yang kemudian menjadi dasar dalam pembelajaran berbasis kebiasaan.

Bagaimana Penerapan Teori Behaviorisme dalam Pembelajaran?

Di dunia pendidikan, teori behaviorisme masih banyak diterapkan, baik secara sadar maupun tidak. Berikut beberapa contoh penerapannya:

1. Latihan Berulang (Drill & Practice)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun